meta content='100'http-equiv='refresh'/> ZIKIR & FIKIR: Renungan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Februari 2015

Mama dan Papa di mana...?

MAMA DAN PAPA DI MANA .…? 

  Mereka tak pernah meminta untuk dilahirkan oleh mama dan papa,mereka terlahir atas nafsu birahi mama dan papa entah itu terjadi dalam ikatan pernikahan yang sah atau tidak,di atas tempat tidur atau di semak-semak,entah siang entah malam , dengan suka sama suka atau dengan paksa,entah mama entah papa yang memulai , entah dalam keadaan tenang atau tergesa-gesa , entah dengan Bismillah atau tidak , entah dengan perasaan cinta entah setengah cinta , entah satu kali atau berkali-kali mama dan papa lakukan mereka tak pernah tau dan tak akan pernah mereka mau tau.
 Yang mereka tau saat ini setelah mereka seumur ini ( lihat foto ) mama dan papa sangat menikmati saat peristiwa itu mama dan papa lakukan , dan setelah peristiwa itu selesai mama tersenyum , papa juga. Ada perasaan bahagia , puas , nyaman , dan gembira , dan satu hal yang amat penting mama dan papa ketahui ; mereka juga sudah tau sekarang bahwa mama dan papa pasti menyadari dibalik perasaan bahagia , puas , nyaman , dan gembira atas selesainya apa yang mama papa lakukan itu konsekwensinya adalah mereka terlahir. 

Saat mereka terlahir mereka juga tidak tau apakah mama dan papa menyambut kelahiran mereka dengan gembira atau sebaliknya , apakah didengungkan azan ke telinga mereka atau tidak , apakah mama dan papa merawat mereka atau mencampakkan mereka di pinggir jalanan lalu dipungut dan diasuh orang lain mereka tak tau dan tak akan mau tau. 

Yang mereka tau adalah saat ini setiap hari mereka butuh zat volatile hidrokarbon yaitu toluene aceton , alifatik acetat , benzene , petroleum naftat , perklorethylen , trikloretane , karbontetraklorida , diethyleter , kloroform , nitrous oxyda , dan macam-macam aerosol serta insektiside yang terkandung dalam aroma yang mereka hirup dari lem tersebut. Tau kah Mama dan Papa tanpa zat-zat yang mengerikan itu mereka akan merasakan sakit yang luar biasa pada kepala dan persendian , pandangan mata tidak focus , dan halusinasi membuat mereka seperti orang gila. Itulah yang menyebabkan mereka harus menghirup gas yang ke luar dari lem itu setidaknya dua kali dalam sehari , bahkan sampai satu jam sekali untuk kondisi yang sudah sedemikian akut . 

Di mana Mama dan Papa saat ini ? Mengapa Mama dan Papa tak mendampingi putera mama buah cinta semasa muda dahulu ? Mengapa mereka sampai hidup terbiar tanpa kasih dan sayang dari Mama dan Papa ? Bukankah mereka terlahir dari perpaduan kasih dan sayang antara Mama dan Papa ? Bukankah mereka itulah yang dulu tumbuh di dalam rahim Mama ? Bukankah mereka itulah yang dulu menyusu kepada Mama ? Mereka itulah sikertas putih Mama dan Papa yang telah Mama dan Papa beri warna kelam , warna gelap , yang memantulkan kegelisahan , ketidakpastian , kecemburuan , dendam , dan sakit hati. Apa yang dapat Mama dan Papa banggakan dalam hidup ini dari anak Mama dan Papa yang tumbuh dan besar dalam kegelisahan serta ketidakpastian , menjadi dewasa ditempa jiwa yang dibakar oleh dendam dan sakit hati tanpa cinta sama sekali ! Itu pun jika mereka dapat bertahan hidup sampai dewasa , karena struktur jaringan sel, dan syaraf orang seusia mereka biasanya tak akan sanggup menerima asupan zat adiktif sekeras volatile hidrokarbon , yang merusak sel syaraf dan melumpuhkannya dengan resiko terdekat adalah , gila , atau mati ! 

Mama dan Papa jangan seperti binatang ! Hanya pandai “ membuat anak ” tapi tak punya tanggung jawab untuk merawat membesarkannya dengan kasih sayang , mendidik dan mengajarkannya tentang kehidupan dan bersosial , serta beragama. Mempersiapkan masa depannya yang baik agar mereka tumbuh menjadi manusia yang bermartabat .

Rantauprapat,19 Februari 2015

Kamis, 25 Desember 2014

JANGAN MELUKAI



JANGAN MELUKAI


Senja mulai menggulirkan angin semilir saat aku tiba di rumah sahabatku setelah hampir tiga jam aku dan motorku bergelut dengan jalanan kampung menuju ke sana.

Ada perasaan bahagia memang,setelah aku menikmati rimbun dedaunan di kanan kiri jalan yang sekali-sekali melibas wajahku sementara terkadang wangi bunga-bunga semak menghantarkan imajinasiku ke negeri syurga. Subhanallah…beginikah gambaran harumnya syurga itu ? 

Kini di halaman rumah di tepian sawah ini syurga itu hadir kembali melalui semilir angin , sejuknya udara , dan kombinasi warna hijau daun padi yang menghampar dengan kuning , biru , dan jingganya langit pada bahagian atasnya.
Ada jalan setapak bertangga menurun landai kearah tepi sawah di samping rumah sebelah kanan,sementara sahabatku Ikhwan Assidqi belum membuka pintu rumahnya. Pemandian , pas ! Aku berwudhu’ dulu ! Akupun turun dari motorku berjalan mengikuti hatiku yang gembira akan bertemu dengan sahabatku  ‘alim dan bersahaja di rumah terpencil itu. 

Belum sepuluh langkah aku menuruni jalan bertangga itu aku dikejutkan oleh teriakan keras memanggil namaku dari arah ujung jalan kecil itu. Saat aku menoleh ke arah suara itu aku melihat sahabatku Ikhwan Assidqi  sedang mandi di bawah pancuran air dari bambu di bawah rimbunan pohon bambu persis seperti itik yang mengkibas-kibaskan sayapnya ketika mandi di genangan kecil sehingga percikan air ke mana-mana.
“ Woi ! Orang desa mandi !” , teriakku dari atas , dan dia tertawa sekuat-kuatnya memecahkan kesunyian di tepi sawah itu.Tak sempat berfikir aku berlari sambil membuka kancing bajuku , melepas celana panjangku dan dengan bercelana pendek aku mendorong dan menggantikan Ikwan Assidqi  di bawah pancur bambu di bawah rimbunan pohon bambu itu. Kami mandi berdua tanpa sempat bersalaman atau saling bertanya kabar. Sesekali kami saling mendorong memperebutkan posisi di bawah pancur dan sesekali pula tawa kami berderai-derai sampai jauh.
“Isteri dan anak-anakmu ke mana ?”,tanyaku setelah kami selesai sholat Maghrib berjamaah , dan setelah makan malam di bawah pancaran sinar petromaks, aku maklum dan menikmatinya karena rumah sahabatku ini memang terpisah lebih tiga kilometer dari perumahan penduduk desa itu. 
“ Pulang ke Padang Sidempuan , mertuaku sakit “, jawabnya .
 “ Masya Allah...”, jawabku perlahan.
 “ Tak mengapa , hanya sakit biasa,mungkin rindu sama cucunya, lagi pula Allah sudah mengatur kedatanganmu ini moment-nya tepat , sehingga kau bebas memilih apakah malam ini kita menyuluh ikan di sawah , atau ngobrol saja sambil makan goreng ubi , atau… kau mau mendengarkan kedalaman makna Munajat Sayyidina Ali ?” 

 Wow…! Semua asyik dari tiga opsi yang diajukannya.
 “Bagaimana ?”, katanya mengejutkan aku yang kelamaan menimbang-nimbang.
"Kali ini tak usah yang berat-berat kita bicarakan... santai sajalah kawan... Kita ngobrol !", kataku.
"Kalau mau ngobrol aja, kita menggoreng ubi dulu berarti...?"
"Berarti ! " Jawabku seperti kebiasaan kami menjawab pertanyaan semacam itu ketika muda di kampung,dulu.
Dia terkekeh-kekeh,mungkin kenangan masa muda di kampung dulu itu , ter- up load juga di memorinya.

Singkat cerita , ubi kayu sudah terhidang lengkap dengan teh manis , dan sepiring kecil sambal terasi sisa makan , tadi. Perngobrolan pun sudah dimulai bahkan sejak aku mengupas kulit ubi dan sahabatku ini menjerang minyak goreng di kuali. Di luar rumah , di sela setiap helai daun - daun padi , embun menempelkan butir-butirnya dibantu oleh semilir angin yang lembut , artinya : malam semakin larut.

Dari obrolan dua sahabat tersebut , satu kalimat hikmah yang diucapkan oleh Ikhwan Assidqi sahabatku itu , dan yang ingin ku share melalui tulisanku ini yaitu , kata beliau : Jika kau panjang , jangan membelit . Jika kau berat , jangan menghimpit , Jika kau tajam , jangan melukai.

Rantauprapat , 26 Desember 2014