meta content='100'http-equiv='refresh'/> ZIKIR & FIKIR: Cerpen
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Oktober 2013

KETIKA ALLAH MEMANGGIL


KETIKA ALLAH MEMANGGIL
Bismillahirrohmanirrohiiim,bismillahillazi laa ilaaha illa hualhayyulqoyyuum ; Bismillahillazi laa ilaaha illa hua zulzalaali wal ikrom ; Bismillahillazi laa yadhurru ma’aasmihi sai umfil ardhi,walaa fissamaa’i wahuassamii’ul aliim…Allahumma sholli ‘alaa sayyidina Muhammad,wa’ala aali sayyidina Muhammad. Ditutupnya zikirnya subuh ini ,dimulainya hari dengan nama penguasa langit dan bumi , dan tak lupa dimohonkannya pula doa salam agar terlimpah kepada kekasih dan kecintaan Allah ; Muhammad Ibni ‘Abdillah sebagai penyerahan segala urusan hanya kepada-Nya, dan penghormatan serta kerinduannya kepada Baginda Rasulullah yang tak seorang muslim pun  tak meneteskan air mata ketika berada di depan makamnya di sebuah sudut di Masjid Nabawi,di kota Madinah yang bercahaya. Diulang-ulanginya salawat itu dengan suara lirih agar kerinduan itu lekat erat menghiasi dinding hati yang cahaya dan keindahannya diharapkannya dapat terpancar hingga pada lisan dan pendengarannya,pada gerak dan langkah kakinya.
Subuh ini lelaki  setengah baya itu mungkin sedang larut dalam keindahan rasa , karena sejuknya udara  terasa indah di hatinya. Cahaya lampu hias yang keemasan,dipandang indah. Aroma minyak wangi yang terhirup, juga membawa nuansa indah. Cahaya subuh yang mulai mengusir gelap di luar sana, mengukirkan efek yang indah. Dihirupnya nafas dalam-dalam, “ Begitu indah subuh ini…. “ kata hatinya. Diliriknya sahabatnya Yasir di bahagian lain di masjid itu yang masih tafakur sambil tangannya asyik memetik buah-buah tasbih tanpa suara tanpa kata-kata,pemandangan itu juga indah di hatinya.
 Sebenarnya dia masih ingin berlama-lama bersimpuh di masjid ini, namun entah kenapa seperti ada sesuatu di luar sana yang mengajaknya untuk segera membuka sila. Perlahan dia bangkit meninggalkan sahabatnya Yasir sendiri dalam asyik masyuknya berzikir. Subhanallah ! Dia terperanjat luar biasa karena begitu dia menghenyakkan kakinya ke lantai tubuhnya melayang sampai kepalanya menyentuh langit-langit masjid. Subhanallah ! Subhanallah ! , teriaknya dan hentakan kepalanya di langit-langit membuat tubuhnya kembali melayang ke bawah hingga kakinya menyentuh lantai. Seperti sehelai bulu angsa tubuhnya begitu ringan . Subhanallah…subhanallah…subhanallah… bisiknya berkepanjangan menghilangkan rasa terkejutnya atas kejadian ini dan kalimah itu mebuat hatinya tenang serta mengekalkan keindahan dalam segenap jiwa dan raganya.
Dia mencoba melangkahkan kaki kearah pintu dan ternyata energy yang digunakannya untuk melangkah itu  mampu menghantarkan hingga ke depan pintu yang jauhnya lebih kurang sepuluh meter dari tempat berdirinya semula,dia tidak terjatuh dan dia mulai menikmati keajaiban ini. Dia berbalik kearah dalam masjid ingin mencoba keanehan yang terjadi pada dirinya ini. Kali ini kedua kakinya serentak ia tumpukan seperti akan melompat ala katak dan , Hap !!! Tiba-tiba saja dia sudah menempel di dinding masjid dekat dengan langit-langit. “Hmmm…tak seorang manusia pun yang tau rencana dan kehendak Allah…” Fikirnya. “Siapa sangka kalau subuh ini Allah telah jadikan aku seorang Badman “. Hap! , dia pun mencoba ke sisi dinding lain, dan ziiip! Berhasil. Hap ! dan ziiip ! Hap ! Dan ziiip ! Gamis putihnya berkibaran ke sana-ke mari menimbulkan suara klepak-klepak karena dia benar-benar terbang seperti kelelawar besar berwarna putih. Sungguh aneh,begitu riuhnya the white badman ini beraksi namun sahabatnya Yasir tetap dalam kekhusu’an zikirnya kepada Allah.
Setelah berulangkali bermanuver dari sisi dinding satu ke sisi dinding yang lain,bahkan sampai-sampai dia Rolling on the sky beberapa kali,akhirnya white badman ini penat juga,ia bermaksud segera pulang dan menceritakan kebesaran Allah ini kepada isterinya.Seperti kelelawar yang akan menyergap mangsa dia pun terbang kearah pintu melintasi halaman dan landing dengan sempurna persis di depan pintu gerbang masjid ; “ Realy ! Ini bukan mimpi !” Bisiknya menegaskan dan menguatkan hatinya. “Subhanallah… Subhanallah… Subhanallah “,kembali dia bertasbih. Dia memandang alam sekitar dan sekali lagi dia diterpa rasa takjub yang luar biasa akan suatu keindahan yang tak dapat digambarkan dengan kata-kata karena rerimbunan pohon yang ada di seberang jalan telah berubah menjadi taman yang tertata rapi pada pandangannya dalam remang kabut temaram. Dengan liar matanya bergerak kearah kanan dan kiri ingin mengetahui secara cepat apakah seluruh alam telah berubah tiba-tiba.Dan benar saja seluruh alam sejauh matanya bisa menangkap telah berubah. Tak ada rumah-rumah , pos kamling , Tiang listrik , warung sarapan pagi , dan tak ada juga kenderaan lalu lalang meski sebuah. Seluruh pandangannya telah berubah indah dan ini bukan khayal tapi sungguhan, bukan pula mimpi tapi kenyataan karena jelas dia sedang berdiri di depan pintu gerbang masjid Al-Ikhlas Lingkungan Aek Siranda,Kelurahan Siringo-ringo,Kecamatan Rantau Utara,Kabupaten Labuhanbatu,Provinsi Sumatera Utara,kode pos 21413. Fikirannya  juga jernih tanpa rasa tertekan,takut,bingung,dan sejenis itu,buktinya dia masih ingat sampai ke kode-kode pos segala dan dia juga ingat jalan pulang arah ke kanan
Allahu Akbar ! Semakin bertambah-tambah imannya kepada Allah atas perubahan yang terjadi ini.”Innamaa amruhuu izaa arooda syai an Ayyaquula lahuu kun faya kuun. Fasubhaanallazi biyadihii mala kuu tu kulli syai iwwa ilaihi turja’uuun”.(Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu,Dia hanya berkata kepadanya : Jadilah !,maka jadialah sesuatu itu.Maha suci Allah yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya kamu dikembalikan). Ya…semakin kuat keyakinannya semakin indah pandangannya,semakin bahagia perasaannya,bahkan kebahagiaan ini adalah kebahagiaan yang meluap karena tak cukup hatinya yang sepotong itu menampungnya sehingga melimpah kemana-mana,ke tangan dan kaki ,ke hidung dan telinga,ke mata, ke kuku,ke rambut hingga seluruh bulu-bulu yang ada,ke seluruh nadi , ke usus-ususnya , ke bilik kanan dan bilik kiri jantungnya, ke pembuluh vena dan arteri , ke tulang dan sumsumnya,subhanallah…
Ia pun melangkah membawa segenap kebahagiaan hati dan keindahan pandangannya menuju rumahnya agar bertemu dengan isteri tempatnya berbagi kebahagiaan. Sepanjang perjalanan menuju rumahnya,tak henti hentinya dia bertasbih kepada Allah karena pohon-pohon seakan berebutan memperlihatkan keindahannya masing-masing dengan bunga yang besar-besar berwarna-warni melambai dan menjulurkan tangkainya sehingga harum yang terkibas dari kelopak-kelopaknya menebarkan harum yang luar biasa dan tak pernah tercium olehnya sepanjang usianya. Ternayata dia hanya butuh tiga langkah saja untuk sampai ke rumahnya,karena satu ayunan langkahnya kini mampu menerbangkannya hingga lima puluh meter ke depan,dan daya lambungnya hingga dua puluh meter ke atas,ringan bagaikan sehelai bulu angsa  ditiup angin yang lembut.
“Assalamu ‘alaikuuum ya ‘Umairoh…”, ia mengucap salam kepada isterinya menirukan salam Rasulullah kepada Siti Aisyah. Tak ada jawaban dari isterinya lalu ia masuk melalui pintu samping yang biasa dibuka isterinya kuncinya sebelum melaksanakan sholat shubuh. Setelah berada di dalam rumah ia mendengar suara lembut isterinya sedang membaca Surah Arrahman,ya… suara itu begitu merdu dalam pendengaranya : “ Fabi ayyi  ‘aaalaaa irobbikuma tukazzibaaaan…”, ayat itu berulang dan berulang terus dilantunkan oleh bibir isterinya sehingga ia begitu terbuai dan terhenyak duduk di lantai di depan pintu kamar tidur mereka itu. Seluruh persendiannya seolah lepas dari tungkainya. Betapa lembut dan merdunya suara itu,betapa berkesannya makna yang terkandung dari Surah yang melantun dari bibir merah itu ; Fabi ayyi  ‘aaalaaa irobbikuma tukazzibaaaan,”Nikmat Allah yang mana lagi yang engkau dustakan ?”. Dengan enteng ia bangkit dan berniat untuk kembali lagi ke masjid berziikir dengan sahabatnya Yasir yang pasti belum pulang karena di luar langit masih temaram. Perlahan-lahan karena takut mengusik kekhusu’an isterinya ia pun beranjak ke luar dan dengan agak terburu-buru ia terbang ( bukan dalam tanda kutip ) menuju masjid dan, zzziiip ! Tau-tau dia sudah berada di depan pintu masjid.
Niatnya untuk kembali berzikir di masjid ini agaknya urung karena di dalam masjid ia melihat ada Sembilan atau sepuluh orang laki-laki yang terdiri dari sahabatnya Yasir, Jamaluddin Siagian, Sahren Munthe, Syahrul Tambak, Mugimin dan yang lainnya sedang berkerumun di depan tiang besar tempat ia biasa duduk berzikir. Dalam hatinya tak sedikit pun rasa heran tentang apa yang dikerumuni mereka dan apa yang dikerjakan mereka. Kelihatan sahabat-sahabatnya ini sedang sibuk dan panik , seseorang keluar dengan terburu-buru,seseorang masuk juga dengan terburu-buru, orang-orang masuk lagi,masuk lagi,masuk lagi bahkan ibu-ibu,pemuda,gadis remaja, dan anak-anak hingga ruangan masjid menjadi ramai sementara dia yang berdiri di depan pintu masjid itu tak seorang pun menegur. Ia tersenyum ,“ Hmm…Allah telah menutupi aku dari pandangan mereka…”,bisiknya perlahan seolah hanya ada dia dan Allah yang menyaksikan keramaian itu.
Sebahagian ibu-ibu yang hadir terlihat menangis, seorang laki-laki ada yang bersuara keras terdengar berkata dengan suara bergetar : “Tenang dulu kamu semua,tenang… orang sebaik dia…tak mungkin secepat ini dipanggil Allah… kita masih membutuhkan dia kok…”. Mendengar ucapan seperti itu apalagi dengan suara yang bergetar bukannya malah menenangkan suasana tapi malah membuat sebahagian orang menangis dengan suara yang kedengaran seperti lolongan srigala yang kesepian,seperti bunyi seruling,biola,saxofhon,dan seperti raungan pilu perempuan-perempuan suku asmat di rimba pedalaman Papua.
Akhirnya puncak kepanikan itupun dipicu oleh suara berat seseorang , seberat hati yang tak rela,dicampur air mata yang tak terbendung : “ Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’uuun “. Maka pecahlah udara di ruangan masjid itu,runtuhlah tiang besar itu memporak-porandakan kubah dan menara,dinding dan mihrab oleh tangis seluruh yang hadir. “Ini berita besar…! “, fikirnya “ Isteriku harus tau ! “,lalu dengan sekuat tenaga ia pun melompat dan sampai persis di sebelah isterinya yang masih hanyut dalam Surah Arrahman. “ Umi, ada yang meninggal di masjid “, bisiknya ke telinga isterinya. Tapi karena Surah Arrahman begitu kuat mengekang hati perempuan sholeha itu berita itu mungkin tak menarik sama sekali.Karena tak ada reaksi dari isterinya ia pun beranjak naik ke tempat tidur menunggu isterinya keluar dari keindahan Surah Arrahman,tak sampai dua menit setelah ia merebahkan diri,dia pun tertidur tanpa mimpi,tanpa dengkur,tenang… setenang air yang mengalir di sungai kecil di tengah hutan yang tak terjamah oleh siapa pun,tanpa segalanya.
Akhirnya,isterinya merampungkan bacaannya pada ayat terakhir Surah Arrahman : “Tabaarokasmurobbika zil jalaali wal ikrooom “ ,”Maha suci nama Tuhanmu,pemilik keagungan dan kemuliaan”. Terdengar ketukan dan salam di luar,isterinya keluar dari kamar dan menyambut salam lalu membuka pintu. Seorang ibu yang belakangan diketahuinya adalah Ibu Marhamah segera memeluk dan menciuminya.                                                                                                                                                          “Ada apa kak ?”.
“Sabar ya buk” .
“Ya,insya Allah saya sabar”.
 “Bapak sudah dipanggil oleh Allah,di masjid”.
“Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’uun”
Meski langit terasa runtuh,bumi seakan amblas,dan udara menjadi pengap,perempuan ini berusaha untuk tegar,karena imamnya , ya…suaminya sebulan terakhir ini sering mengingatkan tentang qadha dan qadhar adalah hak Allah, dan kewajiban kita untuk tawakkal menerimanya,setelah itu akan menyusul hak kita,yaitu balasan syurga dari Allah.
“Kak,sampaikan kepada sahabat-sahabat almarhum,jenazah bapak dibawa ke mari,saya akan memandikan dan mengkafaninya,tidak usah menunggu anak-anak yang jauh,akan segera kita kebumikan sebelum zuhur,itu syari’at agama kita yang dicontohkan baginda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam”.   
Matahari redup di ujung langit,wanita ini merebahkan dirinya persis disamping suaminya yang tidur pulas tanpa mimpi.
“Babah…..”, bisiknya lirih ketelinga  bangkai  suaminya itu. 

Rantauprapat,
26 Oktober 2013 

                                                                                                            
    
                                                                                                                                                                                                                                                                   

















Minggu, 02 Juni 2013

Iku Mneh ! Iku Mneh ! ( Sholat lagi,sholat lagi ! )

Saya punya seorang sahabat bernama Pak Suriadi yang pekerjaannya sehari-hari adalah mekanik pada bengkel mobil sederhana miliknya sendiri di kota saya. Beliau seorang yang taat ibadahnya dan istiqomah melaksanakan Sholat berjamaah di masjid. Pokoknya meskipun pekerjaannya banyak menyita waktu dan penuh dengan rintangan untuk yang namanya sholat apalagi berjamaah ke masjid merupakan suatu hal yang sulit untuk dapat istiqomah seperti pak Suriadi ini. Bayangkan saja, sering sekali beliau lagi sibuk membongkar mesin di kolong mobil dengan tubuh yang clemotan oli kotor tiba-tiba terdengar azan dari masjid yang berjarak lebih kurang 700 meter dari bengkelnya, lalu beliau keluar dari kolong mobil, mandi, berwudhu’dan tancap ke masjid untuk sholat dzuhur, pulang sholat dzuhur beliau makan, ganti pakaian masuk kolong lagi, clemotan lagi dan tak terasa waktu berjalan terdengar azan untuk sholat Ashar, beliu keluar kolong lagi dan tancap ke masjid. Begitu rutinitas beliau dari azan ke azan berikutnya dan itu sudah dilakoni oleh beliau sejak lima tahun belakangan ini, orang bilang pak Suriadi dapat hidayah sejak ikut usaha dakwah jamaah jaulah atau apa namanya, karena sebelum itu pak Suriadi termasuk golongan orang yang tak peduli dengan yang namanya kegiatan berbau agama.

Suatu hari sahabat saya ini kedatangan seorang tamu yang tak lain adalah abang kandungnya sendiri, beliau memanggilnya Kang Samin, datang dari kampung mereka di Pematang Siantar. Layaknya dua saudara yang sudah lama tidak bertemu mereka begitu akrab dan senang atas pertemuan ini. Sepenggal dari percakapan mereka saya dengar seperti ini :

“Kamu hebat dik”, kata Kang Samin “Sudah banyak perubahan pada dirimu“.
“Apa yang berubah Kang ?” tanya sahabat saya.
”Sekarang wajahmu terlihat bersih, teduh,dan berwibawa ditambah lagi jenggotmu itu loh, seperti orang-orang yang kalo sore-sore suka ngajak-ngajak sholat berjamaah di masjid, yang nginap dari masjid yang satu ke masjid lain itu, pakaianmu juga”.
“Oh begitu,ya iyalah Kang kita  harus berubah dari yang kurang baik kepada yang baik Kang. Alhamdulillah sekarang saya istiqomah melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Nanti maghrib kita ke masjid ya Kang ?”kata pak Suriadi.
”Lah,ngapain ke masjid ? Apa ada Mauludan ?” Tanya Kang Samin dengan wajah ndeso yang lagi heran.
“Bukan Mauludan Kang, tapi sholat maghrib berjamaah di masjid, sunnahnya begitu Kang “. Kang Samin semakin kagum pada adiknya ini, dan ketika maghrib tiba Kang Samin tak kuasa menolak ajakan adiknya untuk dibonceng motor ke masjid.

Tiba di masjid Kang Samin celingukan memandangi sekeliling ruangan masjid, dalam hatinya dia mengagumi adiknya yang tidak canggung-canggung menghidupkan pengeras suara lalu azan dengan suara lantang. Bathin Kang Samin berdecak-decak,
”Jangankan di masjid yang semegah dan sebersih ini, di masjid kampung saya yang memprihatinkan, kecil dan kumuh yang jamaah jumatnya cuma lima belasan  orang saja saya nggak berani duduk atau berdiri di kawasan dekat imam, apa lagi azan seperti dia, wah…wah..”.

Singkat cerita usailah sholat maghrib, seperti biasa sebahagian jamaah tidak langsung pulang ke rumah termasuk sahabatku Pak Suriadi ini biasanya bergabung ke dalam golongan jamaah yang tidak langsung pulang melainkan menunggu masuk waktu sholat isya’ di teras masjid, katanya sambil ngobrol sambil muzakarah begitu, tapi kalau saya amati lebih banyak ngobrolnya dari muzakarahnya, sepuluh buang sembilanlah. Tapi tak apalah dulu karena yang menjadi sorotan dalam cerita ini adalah Kang Samin. Mau tidak mau Kang Samin ikut gabung di lingkaran “muzakarah“ ini, topik “muzakarahnya pun macam-macam,mulai dari pahala sholat berjamaah, keluar ke harga sawit,keluar ke benjolan di ketiak seorang hadirin, keluar lagi ke merek minyak wangi, ke beda sabun colek dengan deterjen, ke PSSI yang waktu itu sedang ricuh-ricuhnya, ke puncak gunung Bromo, ke penyakit mata, dan terakhir ke bisnis bulu matanya Syahrini. Benar bukan? “Muzakarah sepuluh buang Sembilan “. Akan halnya Kang Samin hanya menjadi pendengar budimanlah saat itu, hanya sesekali dia ikut tertawa kalau ada hadirin yang tertawa, pasalnya Kang Samin takut kalau dikira budek atau tuli kalau nggak sesekali nimbrung tertawa.
Selesailah sholat isya’ Kang Samin kembali dibonceng adiknya pulang, lalu makan, lalu nonton tv, lalu setelah itu tidur karena sahabat saya Pak Suriadi sudah biasa tidur pukul dua puluh satu,soalnya besok kan harus bangun cepat untuk sholat subuh. Padahal sejak Kang Samin naik bus dari Pematang Siantar,beliau sudah mengharapkan nanti malam dijamu oleh adiknya untuk sekedar makan-makan di warung mie Aceh seperti enam tahun yang lalu dia berkunjung ke rumah adiknya Suriadi ini. “Ah…tak apalah,mungkin besok malam “,desah hati Kang Samin dia pun tertidur di depan televisi. Eh, perasaan Kang Samin satu mimpi belum usai beliau sudah dibangunkan adiknya itu : Kang,Kang Samin ! Bangun sudah jam empat , ayo mandi ke sumur, kita mau sholat subuh ke masjid “. Setengah terbangun Kang Samin bangkit juga menuju ke arah sumur di belakang rumah , dia berpapasan dengan adiknya di pintu dapur dan dilihatnya adiknya yang berjenggot lebat tanpa kumis itu sudah siap dengan pakaian gamis putih,celana putih yang tingginya di atas mata kaki,duduk di atas sepeda motornya menghadap pintu ke luar. Kang Samin nggak pakai mandi lagi,melainkan hanya mencuci muka,membasuh kaki,mengorek-ngorek lobang hidungnya dan hap ! Selesai. Tiba-tiba saja Kang Samin sudah nagkring di boncengan adiknya si jenggot itu,dan bruum tancap ke masjid. Tujuh kali Kang Samin menguap panjang selama perjalanan menuju masjid itu,akhirnya sampailah mereka di masjid yang maghrib semalam dikagumi Kang Samin. “ Assalamu alaikum Ustazd !”,tegur seseorang kepada Pak Suriadi. “Alaikum salam !” ,dijawab enteng sambil senyam-senyum oleh adiknya tersebut.”Adikku di sapa Ustazd oleh orang di kampung ini rupanya “,bathin Kang Samin setengah kagum setengah geli.” Ustazd dari Hongkong ! “ fikirnya,karena dia tau betul adiknya ini,wong seperti dia , ngaji aja nggak becus , kok dipanggil ustazd. “Tapi tak mengapa, habis sholat subuh nanti aku tancap tidur lagi”, fikir Kang Samin sederhana Sambil menguap yang ke tujuh lagi selama di masjid ini. Pak “Ustazd “ Suriadi pun bangkit azan dan tak lama selesai,orang-orang bangkit dan Kang Samin pun bangkit sholat. “Oh, kalau sholat subuh nggak boleh berjamaah kali ya ? “ fikir Kang Samin karena dilihatnya orang-orang angkat takbir sendiri-sendiri bahkan sudah ada yang ruku’,Kang Samin pun Sholat subuh. Takut ketinggalan sendiri Kang Samin tancap gas , baru satu raka’at Kang Samin salam kiri kanan. “Alhamdulillah nggak terlambat,kalau terlambat kan malu dilihati orang “,fikir Kang Samin. Pak Suriadi bangkit lagi untuk iqamah dan orang-orang bangkit lagi. “ Loh ! Mau ke mana ?” fikiran Kang Samin sibuk seperti sinyal selular pada jam-jam sibuk.Orang-orang berdiri di satu shaf, Kang Samin ikut saja.”Terserahlah,mau sholat apa ini ya Allah,aku ikut imam saja,Allahu Akbar”,Kang Samin pasang niat tan langsung takbirotul ‘ula,karena menurut beliau tadi dia sudah sholat shubuh dua raka’at meski diskon satu.
Singkat cerita sholat shubuh pun klar,zikir wiridan klar,doa pun klar,orang-orang bangkit,Kang Samin juga bangkit,cuma celakanya bagi Kang Samin orang-orang bangkit menju berkumpul di depan imam yang mau bayan shubuh,Kang Samin bangkit menuju pintu keluar.”Kang Samin ! “ panggil pak Suriadi kepada kakangnya ini,Kang Samin menoleh,pak Suriadi melambaikan tangannya memberi isyarat agar kakangnya duduk di sini di dekatnya mendengarkan bayan shubuh menggapai hidayah.Dengan perasaan gugup bebaur kesal Kang Samin menuruti perintah ustazd “dari Hongkong” ini.”Apa lagi sih ini ?” gerutu otaknya. Lebih kurang sepuluh menit imam shubuh menyampaikan mutiara-mutiara hadist baginda Rasulullah,Kang Samin tidak mendapatkan satu pun kesimpulan di dalam benaknya untuk di bawanya pulang ke Pematang Siantar,karena selama imam bayan shubuh itu Kang Samin sungguh kerja keras menahan kantuknya yang luar biasa. Dan yang luar biasanya lagi dalam hati Kang Samin bertekad : “Nggak kerjaan ini ! Besok subuh aku nggak bakal mau dibanguni!”
Waktu dzuhur tiba,Pak Suriadi stand by dengan gamis putih celana kebanjirannya dalam pandangan Kang Samin , Kang Samin pura-pura sibuk merapikan kunci-kunci pas yang berserakan. “ Sudah Kang,biarin nanti diberesin anggota itu,ayo kita sholat !” Kang Samin berkilah : “ Belum berwudhu’ !”. “Berwudhu’ di masjid aja nanti ! “ tukas pak Suriadi. Tak ada alas an lagi kang Samin manut membonceng di sepeda motor adiknya.Tak ada kecelakaan bagi Kang Samin selama melaksanakan sholat dzuhur karena bukankah pengalaman the first of sholat shubuh bagi Kang Samin adalah pelajaran yang tak terlupakan.
Waktu Ashar telah tiba pula, Kang Samin berharap dalam hati agar suara azan tidak sampai menyuruk ke bawah mobil di mana adiknya klontang- klonteng di sana. Tapi dasar ustazd jenggot, adiknya itu seolah-olah sudah benar-benar mahir dalam menaksir waktu-waktu sholat di mana dia harus ke masjid,buktinya tak berapa lama adiknya itu sudah siap lagi dengan gamis putihnya.”Ayo kang !”. Kang Samin kesal benar:” Berwudhu’ di masjid aja kan ?”,katanya sambil duduk di belakang pak Suriadi.
Maghrib , dan Isya di hari kedua kunjungan muhibbah Kang Samin ke rumah adiknya ini tak ada insiden yang berarti,namun setelah pulang dari masjid ba’da Isya dan usai makan malam terjadilah keributan di hati Kang Samin. Beliau bertengkar dengan dirinya sendiri,pasalnya tak lain dan tak bukan adalah mie Aceh yang diidam-idamkannya tak kunjung masuk ke perutnya karena adiknya Pak Suriadi sepertinya sekarang tak punya kemauan lagi untuk jalan ke kota seperti enam tahun yang lalu,katanya kota itu sama dengan pasar dan menurut hadist Rasulullah tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar.”Aku kalau nggak untuk urusan yang penting nggak mau ke kota kang Samin , soalnya ke kota sama dengan ke pasar,di sana segala ragam manusia berseliweran tanpa etika dan buka-buka aurat,haram hukumnya memandang aurat bukan muhrim”. Begitu kata Pak Suriadi kepada Kang Samin ketika ngobrol sarapan pagi tadi sehingga usai makan malam ini Kang Samin hilang selera untuk mengajak adiknya itu ke kota , akan tetapi di sisi lain selera Kang Samin meluap-luap terhadap aroma dan rasa mie Aceh yang dirasainya enam tahun silam.
Keributan di dalam hati Kang Samin terekam dalam dialog sebagai berkut : “Aku kan sudah bilang nggak usah kunjungan-kunjungan muhibbah segala lah ke rumah Suriadi !“,kata hati Kang Samin. Nafsu Kang Samin mendadak emosi mendengar ocehan bernada menyalahkan begitu,”Bukan masalah kunjungan muhibbah,itu kan Cuma judul kedatangan saja !” Hati Kang Samin bertanya dengan sabar,”Kalau bukan masalah kunjungan muhibbah ini masalah apa lagi yang membuat kamu dari tadi uring-uringan terus ? ” Nafsu Kang Samin naik darah menggebrak dinding hati Kang Samin sambil berteriak : “ Mie Aceeeh,mie Aceeeeeh,itu masalahnya !“ Hati Kang Samin agak kecut digebrak begitu,beliau berkata : “ Ya udah ajak Suriadi sekarang ke kota makan mie Aceh”. “Diam kau ! Suriadi itu sudah mematikan nafsunya untuk dunia ini,dia nggak mau ke kota banyak aurat berseliweran , haram katanya!”, “Memang begitu mestinya”,kata  hati Kang Samin menyela. “ Diam Kau !”,kata nafsu Kang Samin dengan wajah merah darah. Dibentak begitu hati Kang Samin terdiam,nafsunya juga diam.Akhirnya aroma dan rasa mie Aceh idaman Kang Samin menghantarkannya menuju tidur nyenyak tanpa mimpi sama sekali,mungkin kecapean pasca keributan tadi.
Entah karena tidurnya cukup nyenyak atau karena kesal yang telah jenuh selama dua hari cuma diajak dari rumah ke masjid,dari masjid ke rumah saja Kang Samin dengan mudah dibangunkan Pak Suriadi dan menurut saja di ajak sholat shubuh ke masjid.Sepanjang jalan bahkan sampai sholat usai dan bayan shubuh pak imam rampung,tak sekalipun Kang Samin menguap. Hanya saja perubahan terjadi di pihak Kang Samin,bahwa beliau sejak keributan tadi malam Kang Samin diam seribu kata.
Ketika waktu dzuhur diajak kemasjid oleh adiknya,dia diam tapi menurut berboncengan masih tetap diam,entah berwudhu’ entah tidak Kang Samin langsung masuk shaf yang kebetulan mereka agak ketinggalan takbirotul ‘ula. Tak ada cerita menarik dari sholat dzuhur kali ini.Kang samin diam membisu sementara Pak Suriadi sahabat saya itu tidak menaruh perhatian kearah itu. Seusai makan siang Kang Samin langsung merebahkan diri di depan televisi dan tidur berkeringat begitu nyenyaknya. Sampai menjelang tiba waktu Ashar Kang Samin masih pulas dengan wajah yang kalau diamati dengan cermat seperti memendam kekesalan yang luar biasa.
Sahabatku Pak Suriadi sudah siap mandi dan sudah mengenakan baju sholatnya yang biasa,gamis putih dengan celana panjang di atas mata kaki. Jenggotnya masih basah dibiarkan begitu saja,kopiah putih nangkring dengan manis di atas rambutnya yang basah juga,nur hidayah seakan memancar dari wajahnya. Tenang dan perlahan beliau sentuh tubuh Kang Samin untuk membangunkannya.
“Kang… bangun Kang…”
Kang Samin membuka mata dan berusaha duduk.
“Eneng opo ?” , tanya Kang Samin.
“Ayo ke masjid sholat Ashar…Kang…”
“Wueleh ! Iku mneh,iku mneh ! Bosan aku ! Jawab Kang Samin tidak bergerak dari duduknya. Mungkin maksud  kata-kata Kang Samin itu adalah : Sholat lagi,sholat lagi ! Membosankan !
Astaghfirullah,sampai sebegitunyakah pandangan sebahagian umat ini terhadap perintah sholat ?
( Rantauprapat,25 Mei 2013 )

MASIH ADA BUDIONO


 


MASIH ADA BUDIONO
Namanya Budiono , umur 40 tahun , agama Islam , pekerjaan Penjaga Sekolah di salah satu Sekolah Dasar di Kecamatan Panai Hilir di sebuah desa nun terpencil diperintahkan Kepala Sekolahnya membongkar sekat ruang kelas empat yang terbuat dari tripleks karena ruang kelas tersebut akan gunakan untuk ruang kelas bagi siswa kelas tiga yang akan naik kelas jumlahnya lebih dari empat puluh orang. Dengan ikhlas dan senang hati pak Budiono mengerjakan apa yang diperintahkan oleh kepala sekolahnya.Setelah selesai membongkar sekat ruang kelas tersebut pak Budiono teringat pada kandang bebeknya yang sampai saat ini belum dipasang dinding karena belum ada uang untuk membeli sekedar tripleks.Budiono bergegas menjumpai Kepala sekolah untuk meminta tripleks bekas bongkaran tersebut barang satu atau dua lembar untuk dinding kandang bebeknya.Oleh Kepala sekolah permintaan pak Budiono dikabulkan sebanyak tiga lembar.
Sesudah jam belajar selesai pak Budiono membawa tripleks tersebut ke rumah dinasnya yang masih di lingkungan sekolah.Melihat pak Budiono membawa tripleks bekas tiga lembar,istrinya bertanya tripleks itu dari mana dan pak Budiono menjelaskan asal usul tripleks itu . Saat itu istrinya diam saja dan berlalu,tapi pada malam harinya pak Budiono memperhatikan istrinya gelisah tak  seperti hari-hari biasa. Semula pak Budiono tidak begitu menaruh perhatian,namun setelah malam semakin larut dan istrinya tak kunjung tertidur sementara pak Budiono sudah berulang kali terbangun akhirnya pak Budiono bertanya kepada istrinya,apa yang membuat istrinya itu gelisah dan tak bisa tidur.Agak lama istrinya baru bisa menjawab pertanyaan pak Budiono : “ Mas…tripleks yang mas minta dari kepala sekolah itu bukan milik kepala sekolah , tripleks itu milik orang tua siswa karena untuk menyekat kelas itu dulunya diminta partisipasi orang tua siswa,besok mas pulangin tiga lembar barang haram itu ke gudang…di akhirat nanti kita dimintai pertanggungjawabannya mas…” Pak Budiono tak bisa berbicara apa-apa,bukan karena takut dimarahi oleh istrinya pagi-pagi benar pak Budiono mengangkut kembali tripleks bekas itu ke sekolah dan memberitahukan kepada kepala sekolah bahwa dia tidak jadi menggunakan tiga lembar tripleks bekas itu.
Orang kecil sekecil istri pak Budiono yang hanya seorang ibu rumah tangga dan istri seorang penjaga sekolah di pelosok Kabupaten Labuhanbatu Provinsi Sumatera Utara itu meskipun mungkin Cuma fiktif,namun terasa menonjok hati ketika semua orang saat ini  terperangah dengan maraknya kasus korupsi milyaran rupiah oleh orang-orang besar negeri.
Sebuah Hadist : Dari Umar Bin Khattab r.a , berkata : ” Ketika selesai perang khaibar,beberapa sahabat Nabi SAW  pulang kembali dan mereka menyebut-nyebut bahwa “si Fulan mati sahid ,si Fulan mati sahid”, sehingga mereka bertemu dengan seseorang di tengah jalan mereka menyampaikan, “si Fulan mati sahid”. Kemudian Nabi SAW bersabda : “Tidak ! Sesunggunhnya aku melihat si Fulan berada dalam neraka karena dia menyembunyikan kain mantel rampasan  perang yang belum dibagi ”. (HR.Muslim )
Rantauprapat,28 Mei 2013