meta content='100'http-equiv='refresh'/> ZIKIR & FIKIR

Selasa, 06 Agustus 2013

Muhasyabah



Muhasyabah
Sholat dan amalan zikir ba’da Subuh di masjid baru saja ditutup imam dengan istighfar dan sholawat atas Muhammad ibnu Abdullah.Langit mulai menampakkan warna abu,pertanda matahari mulai mendekati kaki langit di timur sana untuk selanjutnya ia lengkapi titah ilahi atasnya yaitu menebarkan sumber kehidupan dan keindahan bagi bumi dan segala makhluk yang mendiaminya sampai nanti sebelum senja di mana gelap akan menenggelamkannya di lazuardi sebelah barat.
Subuh ini adalah subuh ke dua puluh delapan Ramadhan 1434 Hijriah.Dua atau tiga subuh lagi Ramadhan akan berlalu meninggalkan para perindu syurga pelantun munajat di masjid-masjid di seluruh dunia,ya… di seluruh jagad raya ini.
Akan halnya aku, di subuh ini aku terpuruk dalam kesedihan yang indah setelah dalam i’tikafku malam tadi kujelajahi jejak yang terukir di sepanjang jalan di belakangku dari Ramadhan ke Ramadhan sepanjang ingatanku.Duhai,ke mana indahnya Ramadhan masa kanak-kanakku ketika mengumpul jambu klutuk,rambutan, dan mangga siang harinya untuk di makan nanti setelah berbuka ? Ke mana indahnya Ramadhan di kampung  menjelang remajaku , ketika sholat tarawihku tak pernah khusuk karena menanti saat tadarus Alquran  yang biasanya mataku dan mata puteri Pak Rahim selalu kami pertemukan ? Di mana pula indahnya Buka puasa bersama ketika aku menjadi ketua Remaja Masjid Attaqwa Jalan Gajahmada Rantauprapat , saat aku ke GE – Eran karena menurut perasaanku waktu itu ada dua atau tiga gadis yang menaruh hati padaku ? Keindahan masa-masa tersebutlah yang membuat aku terpuruk dalam kesedihan ini.
Ternyata waktu adalah pedang yang memisahkan aku dengan semua keindahan itu,namun saat ini aku telah menemukan keindahan baru yang jauh lebih asyik-masyu’,keindahan itu kuperoleh setelah aku tau bahwa waktu jugalah yang akan mengusung maut untuk merenggut keindahan dan kelezatan dunia ini dalam jumlah segalanya.

Sabtu, 20 Juli 2013

MENCARI MAKNA MASBULLOH




                                       Mencari Makna Masbulloh

Bulan puasa begini jika kita hayati pengamalannya membuat iman kita meningkat dan perilaku orang di luar sana yang bermacam ragam terkadang bisa membuat tekanan darah kita meningkat juga.
Kemarin sore saya dan isteri mencoba suasana baru dalam menanti tibanya waktu berbuka puasa yaitu jalan-jalan sore sambil mencari penganan yang pass buat selera orang setua saya dan isteri.

Dari rumah saya mulai JJS ini dengan bismillah untuk mencari suasana baru setelah satu minggu mengurung diri dan memenjarakan mata di rumah,tanpa infoteintmen plus tanpa sajian aurat para artis,bahkan tanpa acara-acara televisi berlabel Hikmah Ramadhan berbalut maksiat itu.
Saya duduk di belakan stir dan si Hajjah di samping saya sebagai navigator dalam hunting ride dalam rangka memanjakan lidah ketika berbuka nanti. Musik di radio seakan menenggelamkan kami dalam lautan dosa ,betapa tidak lagu yang diputar oleh operator di ujung sana adalah lagu yang liriknya syarat maksiat : Ku hamil duluan , sudah tiga bulan gara-gara pacaran .......... berduaan , tapi anehnya meskipun sedang berpuasa lagu cabul itu terus mendampingi perjalanan kami karena mungkin fokus perhatian kami cuma satu memilih-milih makanan yang berjejer sepanjang jalan yang tepat untuk berbuka puasa dan lagu itu terabaikan. 
Kaca depan mobil seperti rolling etalase menyajikan berbagai pajangan yang jika dipandang tidak dengan filter iman maka ketika pulang dari niat baik membeli bukaan ini bagasi mobil akan penuh dengan bungkusan-bungkusan dosa mata,dan puasa hari ini menjadi ringan timbangannya karena pahalanya telah banyak berkurang.
Di ujung episode JJS bersama si Hajjah ini selera saya tertarik pada kue tradisional bernama Ongol-ongol , kue seperti ini dulu di kampung adalah kue trade mark almarhum Ummi saya karena di sawah ada pohon sagu yang jika sudah tua suka ditebang Almarhum Babah saya untuk diambil sagunya.( Ah... sebuah nostalgia biru...) Mobil berhenti,kami berdua turun ke ongol-ongol itu.
Ketika si Hajjah menunggu antrian penjual membungkus kue nostalgia itu,hidung saya menghirup aroma parfum yang cukup menggoda,dan tanpa istighfar sebelumnya mataku memaksa leherku berputar ke arah belakang mencari sumber aroma.Ternayata dua orang perempuan muda tanpa jilbab,dan memang harus tanpa jilbab karena mereka berdua memakai T.Shirt ketat tanpa tangan dan celana pendek sebangsa Jin ( Maksudnya Jeans ),jadi syukurlah mereka tidak memakai jilbab padahal dari paras wajahnya saya yakin mereka berdua adalah muslim.
Jantung saya berdetak lebih kencang dari biasa,bukan karena apa-apa melainkan hati saya berkata saya harus menegur kedua orang yang mengobral aurat di tengah kerumunan orang laki-laki dan perempuan yang tengah berpuasa. Saya berbalik karena mereka persis di belakang saya.
" Dik ! Hargai sedikit bulan Ramadhan dan orang-orang yang sedang berpuasa ini kenapa ?" Sebuah teguran telak dan langsung ke mulut gawang.
" Kenapa rupanya pak Haji ? ",kata yang berkulit lebih gelap menangkap bola dan melemparkannya ke mulut gawang saya.
" Ini kan bulan ramadhan sebaiknya adik berdua berpakaian sopan,dan tertutup lah ! "
Belum sempat seperdelapan detik,kata-kata saya itu sudah disambar oleh masih si kulit gelap tadi ; " Bapak Masbulloh , ya ? "
Pertanyaan yang menyambar itu saya tercekat dan agak agak ragu akan originalitas telinga saya,apakah dia menanyakan nama saya , atau kata Masbulloh ini adalah istilah bahasa Arab yang lagi trend sebagai istilah untuk orang yang memberi nasehat sambil marah.
" Apa kamu bilang ? ", tanya saya.
" Bapak Masbulloh,ya ?",katanya menegaskan.
" Bukan,saya haji Sayyid ",jawab saya yakin.
" Bukan nama bapak yang saya tanya". Kata si kulit gelap sementara si kulit putih dari tadi saya lihat senyam - senyum kepada temannya itu.
Kalau bukan menanyakan nama saya,lalu apa itu Masbulloh yang dimaksudkan oleh perempuan yang tak beretika busana ini ? Saya bengong,mereka meninggalkan saya untuk maju ke antrian depan saya.
Saya melangkah meninggalkan mereka dan cepat-cepat menuju mobil dan tak berani melihat ke belakang sama sekali.
Di sepanjang jalan pulang fikiranku tertuju terus kepada apa makna kata Masbulloh tadi. Kucoba mengingat maknanya dari kamus bahasa Arab tidak ketemu,call a friend juga nggak tau.Sungguh aku telah tenggelam dalam penasaran yang luar biasa.
Sesampai di rumah saya cepat-cepat memanggil puteri saya dan menceritakan peristiwa yang membuatku penasaran tersebut secara lengkap.
" Jadi mbak-mbak itu bertanya babah Masbulloh ya ? Begitu ? ". Tanya puteri saya juga sambil senyam-senyum.
"Iya,kenapa ? Apa maksudnya Masbulloh ?
"Mbak itu kesal ditegur seperti itu,bah ",kata puteri saya.
" Jadi....?"
" Jadi Mbak itu bilang Masbulloh !"
" Apa itu Masbulloh ?"
" Masalah buat Loh ?"
 Mati aku....!

Sabtu, 13 Juli 2013

Gizi Bagi Iman


 Gizi Bagi Iman

Sebagaimana jasad raga kita Iman juga butuh gizi dan perlindungan agar ia tumbuh bersemi,sehat,kuat dan tahan uji.Iman yang bersemayam di dalam qolbu manusia akan terinfeksi berbagai virus penyakit yang menghinggapi qolbu sehingga secara bersamaan antara iman dan qolbu saling mempengaruhi yang dampaknya akan terlihat secara zahir berupa amal perbuatan jasmani.
Rasulullah saw dalam salah satu hadistnya menyebutkan bahwa di dalam diri seorang hamba terdapat segumpal daging yang apabila daging tersebut baik (sehat)maka baiklah amalnya,namun apabila segumpal daging tersebut buruk (tidak sehat) maka buruk pula amalnya. Itulah qolbu ! Jadi,antara Iman,Qolbu,dan amal saling berkaitan pula.

Saudaraku muslim yang dimuliakan Allah,siapakah yang dapat melindungi, memupuk dan merawat qolbu dan iman kalau bukan kita yang punya jasad tempat bersemayamnya kedua unsur vital tersebut, yang menjadi penentu bagi kebahagiaan di dunia dan kemaslahatan hidup di akhirat.Permasalahnnya adalah bagaimana melindungi,memupuk dan merawat qolbu dan iman agar terjaga,tumbuh subur,serta sehat,apalagi qolbu dan iman keberadaannya bersifat ghaib.

Mungkin beberapa hal di bawah ini dapat menjadi pertimbangan bagi saudaraku muslim yang awam seperti saya dalam upaya melindungi,memupuk,dan merawat qolbu dan iman.
Pertama : Lindungi qolbu dengan menjauhi maksiat.
Kedua    : Kikis penyakit qolbu dengan banyak-banyak istighfar.
Ketiga    : Tenangkan qolbu dengan mendawamkan zikir.
Keempat :Jinakkan qolbu dengan rutinitas membaca Alquran.
Kelima   : Bangkitkan gairah qolbu dengan kecintaan duduk dalam majelis ilmu.

Saudaraku muslim, kemajuan iptek saat ini di satu sisi memang tidak dapat kita pungkiri sangat banyak memberikan kemudahan bagi kehidupan umat manusia,tetapi di sisi lain iptek teramat banyak menebarkan maksiat,bagaikan hujan anak panah yang bertubi-tubi menyerang qolbu orang yang beriman maupun yang tidak beriman. Namun demikian meskipun terlalu berat untuk menjauhi maksiat,adalah sebuah keharusan bagi kita untuk menjauhinya jika ingin menyelamatkan qolbu atau hati kita ini dari kerusakan.
Ketahuilah saudaraku,sebahagian orang menganggap maksiat itu adalah perbuatan dosa besar saja seperti berzina,membunuh,mencuri,berjudi,merampok,memperkosa dan lain sebagainya yang jumlahnya terbatas,padahal bicara bohong adalah maksiat,berlebihan dalam memandang adalah maksiat,memakan makanan yang tak jelas halalnya adalah maksiat,bergaul dengan orang-orang jahil juga maksiat,dan tentunya banyak lagi bahkan sulit dihitung dengan angka maksiat-maksiat yang terus menerus menyerang qolbu kita sehingga jika tidak kita lindungi maka qolbu kita akan sakit dan semakin kronis yang akan menghantarkan kita menjadi manusia durjana yang tak mampu menemukan Shiraat Mustaqiim , jalan kembali kepada Allah yang dekat tidak berantara dan jauh tidak berjarak.

Saudaraku muslim rahimakumullah,Imam Al-ghozali mengumpamakan qolbu manusia seperti cermin yang apabila tidak pernah dihapus atau dibersihkan,sebuah cermin akan menjadi kusam berdebu sehingga tidak dapat menangkap cahaya,dan tidak pula dapat memantulkannya.Begitu pula qolbu kita jika tidak selalu dibersihkan dengan istighfar,maka ia akan menjadi gelap kusam tak dapat menerima nur hidayah dari Allah dan tidak pula mampu membagikannya kepada sesama muslim.
Banyaklah kita beristighfar mohon ampun kepada ilahi robbi yang maha pengampun sebanyak apapun dosa yang telah kita perbuat.

Saudaraku muslim yang dirahmati Allah,qolbu atau hati manusia cenderung dipenuhi dengan kecemasan dan ketakutan dalam konteks keduniaan.Kita selalu cemas menghadapi kehidupan ini, yang miskin takut tidak dapat menafkahi keluarga,takut tidak mampu menanggulangi biaya pendidikan anak-anak,takut dihina dan dicaci jiran tetangga karena hidup miskin. Mereka yang kaya cemas mengalami kebangkrutan,takut jatuh dari jabatannya,takut menjadi miskin,takut dilecehkan oleh orang lain.Kondisi qolbu yang cemas seperti ini akan menjadikan hidup kita tidak syakinah,melainkan selalu gelisah dan keluh kesah sehingga tidak ada kebahagiaan,dan akan membawa kita kepada kehidupan yang mengejar uang,mengejar harta tanpa kenal waktu,tanpa kenal agama.Agar kita tidak terjerumus pada kondisi qolbu yang liar dan kehidupan memburu harta seperti itu maka rutinkan berzikir mengingat Allah,luangkan waktu di sela kesibukan untuk Sholat mengingat Allah.

Saudaraku,kenikmatan dunia ini tidak berarti sama sekali jika dibandingkan dengan kenikmatan yang akan kita terima di syurga nya Allah swt , waktu bagi kita juga dalam menikmati keindahan dunia ini sangat singkat,hanya berkisar 60 tahun sampai 70 tahun saja,sedangkan kenikmatan di syurga itu kekal abadi selama-lamanya,sehingga menurut hemat saya tak perlulah kita sampai bringasan dalam mereguk kenikmatan dunia ini sampai-sampai kita menghalalkan yang haram,lupa daratan,lupa diri dan lupa bahwa ada masanya kita ini akan mati dan dimintai pertanggungjawaban akan umur,akan anak,akan isteri,akan harta dan kewajiban-kewajiban kita lainnya yang telah ditetapkan oleh Allah swt.
Jangan biarkan kehidupan bringas dan liar menguasai qolbu dan diri kita,jinakkan dengan mengamalkan secara istiqomah membaca Alquran.

Saudaraku muslim tercinta,sebahagian kita kaum muslimin qolbunya tidak bergairah dalam beragama,ia berprinsip agama itu hanya sebuah tuntunan untuk hidup dalam berbuat baik,jika kita sudah bisa berbuat baik sesama manusia,berbuat baik kepada keluarga dan jiran tetangga sudah cukup.Tak perlu repot-repot sholat berjamaah ke masjid, tak perlu menghadiri hajatan tetangga, tak perlu aktif dalam mengurusi jenazah,mengurusi anak yatim,fakir miskin, tak perlu mengikuti pengajian,silaturahmi,dan tetekbengek agama yang lainnya. Qolbu yang seperti ini adalah qolbu yang tanpa gairah agama. Jika semua kaum muslimin berprinsip seperti ini maka sudah lama sekali Islam itu tinggal kenangan saja.Gairahkan kehidupan beragama dalam diri kita dengan mencintai majelis ilmu,karena  majelis ilmu akan membuka cakrawala berfikir islami,melatih diri untuk menghargai pendapat orang lain , membahas aktifitas keagamaan lainnya dalam rangka mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat juga.

Akhirnya saudaraku muslim yang dirahmati Allah,ingatlah : Awal bencana bagi seorang hamba Allah adalah kerasnya hati,awal kerasnya hati adalah membiasakan diri dalam lupa kepada Allah,membiasakan diri tidak mengerjakan sholat,membiasakan diri tidak puasa Ramadhan,tidak berzakat,tidak bersedekah,membiasakan diri asyik dengan tipu daya dunia,membiasakan diri dengan maksiat baik besar mau pun kecil.

**Rantauprapat,18 Juni 2013. 







Jumat, 12 Juli 2013

Sayyidul Istighfar



Kepada Saudaraku

Saudaraku , jikapun dosa telah terlanjur bertumpuk menimbun qolbu,karena maksiat telah menjadi kelaziman dalam jejak kehidupanmu,berusahalah mencari celah di antara kegelapan hati yang memungkinkan bisa kau tembus sekedar mencari setitik cahaya dari atas sana,agar mata hatimu bisa memandang bahwa masih ada ruang lain yang terang benderang di luar kegelapan ini,atau berupayalah menelusuri selubang jarum fentilasi untuk hatimu bisa bernafas bahwa masih ada kelapangan,di ujung sana di luar kesempitan yang menyesakkan ini.

Jangan biarkan kegelapan itu terus-menerus mengurungmu saudaraku meskipun mungkin kegelapan itu saat ini membuat dirimu nyaman tanpa cahaya atau bahkan mungkin saat ini cahaya itu begitu menjengkelkanmu.Jangan biarkan ruang di hatimu pengap karena kau wahai saudaraku membutuhkan udara seperti ikan membutuhkan air.Gelap dan pengap sesungguhnya adalah kondisi yang tak nyaman,tetapi oleh musuh nyata kita yang bernama syaithan gelap dan pengap itu dihiasinya dengan illusi dan kenikmatan semu sehingga gelap menjadi penuh warna dan pengap menjadi segar dan penuh pesona.

Mungkin jalan telah jauh tertempuh,dan masa telah menelantarkanmu di ruang gelap dan pengap ini, mungkin segalanya telah berubah karena rambu-rambu yang dulu terpancang di sudut-sudut qolbumu turut menjadi kelam dan hitam,sehingga kau wahai saudaraku tak tau jalan pulang,padahal jalan pulang itu begitu tegas dan nyata berdebar dengan ritme yang teratur menyeru Dia yang lidah tak kuasa menyebutnya karena Dia tanpa huruf dan lafal,Dia yang maha halus akan tetapi melingkupi seluruh alam,Dia jalan pulang itu yang mampu menghadirkan ramai dalam kesepian,dan sebaliknya sepi dalam keramaian. Pada debar itu pulalah sumber cahaya yang telah kau tutup tebal dan kental dengan maksiat demi maksiat.

Jika engkau saudaraku membaca tulisanku ini maka ingatlah apa yang diajarkan oleh guru kita dulu ketika di kampung yang telah sama-sama jauh kita tinggalkan,yaitu Sayyidul Istighfar : Allahumma anta robbi , laa ilaha illa anta kholaqtani wa ana 'abduka , wa ana 'ala ahdika wawa'dika mastatho'tu, a'uuzubika min syarri maa shona'tu abuu'ulaka bini'matika alayya,wa abuu'u bi zanbi,faghfirli, fa innahu laa yaghfiruzzunuuba illaa anta.
" Wahai Allah Engkaulah Tuhan yang memelihara aku,tidak ada Tuhan sesembahan yang lain selain Engkau,yang telah menjadikan aku,dan aku adalah hamba-Mu,dan atas apa yang telah Engkau janjikan sedapat mungkin aku lakukan. Aku memohon perlindungan kepada-Mu dari pada bahaya apa yang kelak aku lakukan. Aku mengakui benar-benar akan nikmat-Mu yang telah Engkau berikan,dan aku mengakui dosa-dosaku,maka ampunilah aku.Sesungguhnya tiada yang berhak mengampuni dosa kecuali Engkau ".

Cobalah gerakkan lisanmu melafazkan kalimat demi kalimat dengan fasih dari frase yang singkat ini sebagaimana guru kita yang mulia mengajarkan dengan fasih sayyidul istighfar ini. Masihkah saudaraku ingat guru kita mengajarkan kalimah ini dengan setengah berbisik kepada kita berdua,seakan-akan kalimah ini berupa rahasia antara kita bertiga : Berkata Guru kita yang mulia, "Cobalah kamu ucapkan istighfar seperti ini yang isinya lebih komplit dan khasiatnya lebih besar yang biasa pula diucapkan oleh Nabi Sallallhu alaihi wasallam,inilah sayyidul istighfar...." Sekali lagi kuingatkan kepadamu saudaraku,guru kita mengajarkannya kepada kita dengan setengah berbisik,ya...setengah berbisik.

***** Saudara muslim pembaca yang budiman ,yang kondisi iman dan amalnya dalam keadaan gelap dan pengap seperti sahabat sekampung saya tersebut di atas, coba baca sayyidul istighfar ini dengan khusuk' tiga sampai lima kali saja. Insya Allah saudaraku segera keluar dari kegelapan tersebut.








Minggu, 07 Juli 2013

Apresiasi Puisi Religi Zainab Alkausar


                         
  Aku dan Pinta

Hingga ujung kalam-Nya nanti
aku tak hendak menyisipkan lara dalam setiap perjumpaan
Yang kutahu hanya satu
Bilik-bilik hati yang terasa hening ini
kunikmati dengan segenap doa

Bahkan ketika yang ditakdirkan dalam masa itu tiba
Yang terpinta dalam sepanjang sajadah itu
Hanyalah ku dan Mu

Juga tak lupa bahwa jiwa yang sebenarnya
selalu menyimpan kesah ini
Adalah raga yang tak sanggup berdiri
tanpa kasih juga hendak-Nya

Pun jika kelak,mata menutup selamanya
Adalah pinta untuk mati
dalam istiqomah dan husnul khotimah

-Hidup mulia atau mati sahid
Rantauprapat,26 Oktober 2012
Zainab Alkausar

Demikian Zainab Alkausar mengkomunikasikan isi hatinya kepada pembaca bahwa betapa pun penderitaan hidup yang dialami oleh beliau ( penyair ) , beliau tak pernah mau untuk menunjukkannya kepada sang khalik dalam setiap kesempatan , apakah ketika beliau berdoa,maupun mungkin ketika beliau sholat.Penyair kelihatannya seorang yang menerapkan sikap qona'ah dalam mengharungi kehidupan ini,beliau menikmati saja suasana hati yang dimilikinya sebagai sebuah kebahagiaan tersendiri,ya kebahagiaan hidup berada dekat dengan sang pemberi kebahagiaan,ketenangan,dan keteduhan.
Aku tak hendak menyisipkan lara dalam tiap perjumpaan  
Yang kutahu hanya satu
Bilik-bilik hati yang terasa hening ini
kunikmati dengan segenap doa
( Aku tak mau berkeluh kesah kepada-Mu wahai Allah,karena bagiku segala apa yang Kau beri ke dalam hati ini adalah anugrah yang kunikmati dengan penuh rasa syukur kepada-Mu)

Bahkan dalam setiap doanya , ketika Allah mentakdirkan untuk memanggilnya , Zainab Alkausar tidak menginginkan apa-apa selain hanya Allah dan dirinya saja,karena beliau sadar keluh kesah meskipun di dalam hati adalah bukti bahwa sesungguhnya beliau adalah makhluk yang dha'if yang tak sanggup berbuat apa-apa tanpa kasih sayang dan pertolongan dari Allah semata.
Juga tak lupa bahwa jiwa yang sebenarnya
selalu menyimpan kesah ini
Adalah raga yang tak sanggup berdiri
tanpa kasih juga hendak-Nya
( Kuakui,keluh kesah atas penderitaan hidup yang Kau takdirkan kepadaku selalu mendera hati ini,dan itu adalah bukti bahwa aku ini adalah hamba-Mu yang lemah , jika tanpa kasih sayang dan pertolongan-Mu wahai Allah )
Di akhir puisinya Zainab Alkausar kembali mengungkapkan satu harapan bahwa jika pun Allah memanggilnya nanti Zainab berharap dipanggil dalam istiqomah di jalan Allah,dan husnul khotimah, sebagai akhir kehidupannya yang baik dalam pandangan Allah.
Pun jika kelak,mata menutup selamanya
Adalah pinta untuk mati
dalam istiqomah dan husnul khotimah

Sederhana memang puisi religi berjudul Aku dan Pinta ini,namun kata yang dipilih oleh Zainab untuk mewakili perasaannya begitu lancar mengalir dan menurut saya mampu membuai pembacanya larut dalam suasana hening seperti heningnya bilik-bilik hati Zainab dalam kebahagiaan yang bukan karena materi keduniaan,melainkan karena merasa Allah selalu ada di sana , bersemayam di bilik-bilik hati Zainab.

Siapakah Zainab Alkausar ? Saya juga belum mengenal beliau.Nama itu begitu asing dalam fikiran saya,namun begitu saya disuguhkan oleh sahabat saya Th Pohan seonggok puisi untuk saya beri review atau semacam komentar atau apalah kata Th Pohan,karena katanya puisi-puisi itu akan diterbitkan,maka saya sedikit terperangah membaca puisi-puisi Zainab yang bernada religius.Ada toh anak Rantauprapat yang mampu menulis puisi seapik ini ? fikir saya. Maaf lo bagi penulis puisi yang lain yang satu onggok akan diterbitkan itu,yang lain juga bagus puisinya kok.
Bagi Saudaraku peminat sastra,jika dalam waktu dekat seonggok puisi itu sudah terbit dengan judul :Sajak Langit Panai,silakan simak puisi mereka ; Th Pohan,Agung S,de Puspa,Zainab Alkausar,Ibn Ven,Herlina Hsb,Qaireen Izz,Ahmad Fajar Septian,Faisal,dan Dita Fadhilah Azri.
Sungguh kiranya Allah senantiasa membimbing hati kita semua dalam suasana religius yang berarti Allah masih bersemayam di sana yang salah satunya tercermin dari puisi-puisi yang kita tulis.

Rantauprapat,8 Juli 2013
 

Minggu, 09 Juni 2013

Ramadhan 'kan Tiba



Bulan Ramadhan segera menghampiri umat seluruh alam.
Bulan penuh rahmat itu akan segera melingkupi langit dan bumi seperti sebuah payung raksasa yang menaungi alam semesta ketika panas terik membakar , menjanjikan kesejukan dan ketenangan segala yang dilingkupinya.
Betapa tidak;karena pada bulan itu Ashma Allahurrahman ,Allahurrahim,Allahussalam akan berkumandang terus-menerus di hati kaum muslimin yang beriman seperti layaknya detak jam yang berhenti menyuarakan “tik,tik,tik”dari sahur ke sahur. Subhanallah,maha suci Allah yang mensucikan hati umat ini dari segala keraguan terhadap Ramadhan yang membawa hikmah dan barokah dan segala kebaikan bagi alam semesta juga.


Di penghujung bulan Sya’ban nanti mulailah umat ini mengumandangkan puji-pujian kepada khaliknya: Subhanalmalikil ma’bud,subhanalmalikil maujud,subhanal malikilhayyillazi layanamu wala yamutu,wala yafutu Abadan.Subbuhunquddusun robbuna,warobbul malaikatu warruh. Subhanallah,walhamdulillah,walailahaillallah,wallahu akbar,walahaula wala kuwwata illa billahil aliyyil azim ; Maha suci Tuhanku yang menguasai dan yang disembah,maha suci Tuhanku dan maujud,maha suci Tuhanku yang menguasai,yang dia tidak tidur,yang tidak mati,dan yang tidak pernah sirna selama-lamanya. Maha suci,maha kuddus Tuhan kami , Tuhan para malaikat dan ruh. sebagai tanda syukur yang mendalam atas doa-doa mereka sepanjang Rajab dan Sya’ban yang telah dikabulkan oleh Allah,yaitu doa mereka dengan penuh harap : Allahumma bariklana fi Rojaba wa Sya’ban,waballighu Ramadhan.Wahai Allah beri keberkahan kepada kami pada bulan Rajab dan Sya’ban,dan sampaikan umur kami ke bulan Ramadhan tahun ini.


Demikian langit Ramadhan akan dipenuhi dengan seruan,pujian,dan doa-doa dan menyusup langsung sampai ke arasynya Allah Subhanahu wata’ala,sebagai harapan besar dari hamba-Nya yang merasa rendah hina,dan bergelimang dosa.Sebagai rintihan jiwa yang tak ada lagi tempat mengadu selain kepada Pemilik Arasy,karena siapa lagi  ghofuruzzambi selain Dia,siapa lagi yang dapat na’uzubika minannar selain Dia.

Jika perintah-Nya sudah dilaksanakan dengan istiqomah,jika rahmat,rahman dan rahim-Nya sudah diakui dirasakan,jika hati sudah memuji dengan tulus,jika keyakinan setiap doa akan dikabulkan,ketenangan hati yang bagaimana lagi yang tidak dirasakan oleh insan beriman ketika merintih dan memelas dengan air mata yang mengalir.Tak ada ketenangan hati dan perasaan senikmat ketenangan hati dan perasaan ketika munajat ke hadirat ilahi dengan yakin dan dengan air mata.


Ramadhan ‘kan tiba,persiapkan diri dengan sukacita,persiapkan jiwa dengan kejujuran dan keikhlasan,kita sambut kehadirannya dengan keyakinan penuh bahwa bulan ini adalah bulan rahmah,bulan maghfirah,dan bulan di mana kita berusaha meraih tiket untuk masuk ke dalam syurga melalui pintu Rayyan sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Muhammad Sallallhu alaihi wasallam,yang diwayatkan oleh  Bukhari dan Muslim : Dari Sahal bin Sa’ad r.a.dari Nabi saw.,beliau bersabda:”Sesungguhnya di dalam syurga ada pintu yang bernama Ar-Rayyan,di mana nanti pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu itu,dan tidak seorangpun yang dapat masuk melalui pintu itu selain mereka,di mana penjaga pintu mengucapkan : Mana orang-orang yang puasa ?,kemudian merekapun berdiri,tidak ada seorang pun yang boleh masuk selain mereka.Apabila mereka telah masuk maka ditutuplah pintu itu”.[ sumber hadist: Riyadhusshalihin-Imam Nawawi ]

*Rantauprapat,9 Juni 2013