meta content='100'http-equiv='refresh'/> ZIKIR & FIKIR

Selasa, 13 Mei 2014

DUNIA OH DUNIA





Dunia,oh dunia…inilah tempat berlangsungnya satu episode kehidupan anak manusia yang berupa penjara bagi orang yang beriman,dan berupa syurga bagi orang kafir dan orang-orang yang tak beriman.
Bagi orang yang beriman dunia ini begitu sempit dan hatinyalah yang luas tiada batas dan tepi sebagai sebuah ruang. Ruang gerak orang yang beriman hanya sebatas dari rumah ke masjid,dan dari masjid ke rumah karena tempat-tempat selain itu dipenuhi dengan larangan berupa maksiat yang dilarang untuk dilihat apalagi untuk dikerjakan. Namun,bagi orang kafir dan orang-orang yang tak beriman dunia ini laksana syurga yang kenikmatannya dapat diraup sebanyak-banyaknya tanpa batasan dan larangan,jarak dan waktu (Menurut akal mereka).

Menderita dan sengsarakah kehidupan orang-orang yang beriman di dalam penjara yang bernama dunia ini , berbahagiakah hati orang-orang kafir dan orang-orang yang tak beriman itu ? Jawabannya , tidak ! Bagi orang-orang yang beriman menahan diri dari larangan Maulananya yaitu  Allah swt  dan melaksanakan perintah-Nya secara istiqomah adalah kebahagiaan yang sebenar-benarnya,dan nikmat ibadah secara istiqomah ini adalah nikmat bahagia yang tak dapat digambarkan dengan kata-kata hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang taat dan ikhlas semata karena Allahulkarim,dan sebagai balasannya di dunia Allah menghantarkan sebahagian kecil nikmat syurga ke hati hamba-hamba terpilih tersebut yang pada akhirnya kelak Allah akan menyempurnakan nikmat-Nya di ‘Daarussalaam’ , syurga Jannatunnna’im.

Akan halnya orang-orang kafir dan orang-orang yang tak beriman kehidupan di dunia ini mereka rasakan sebagai syurga,tempat kebebasan,tempat untuk memenuhi segala keinginan namun pada hakikatnya mereka merasa hidup sengsara dan menderita. Jiwa mereka terasa hampa karena hidup dalam bayang-bayang dosa , dosa mengingkari Allah, dosa mengingkari kebenaran hakiki dari ajaran Islam sebagai satu-satunya agama yang diridhoi Allah,yang mereka tau akan hal itu.

Firman Allah SWT dalam Surah Al A'raf ayat 179 :
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi)tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda - tanda kekuasaan Allah), dan merekamempunyai telinga (tetapi) tidakdipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak,bahkan mereka lebih sesat lagi”.

Saudaraku,jangan jadikan dunia ini sebagai tujuan tapi jadikan dia sebagai sarana untuk mencapai tujuan. Mencari harta sebanyak-banyaknya sehingga lupa akan perintah,larangan,dan syari’at agama lalu  menumpuk-numpuknya , beranggapan bahwa hartalah yang akan mendatangkan serta mengekalkan kebahagiaan hidup di dunia ini adalah anggapan dan pemahaman yang keliru,yang benar adalah ; carilah harta sebanyak-banyaknya dengan ridho Allah,laksanakan perintah dan tinggalkan larangan-Nya , gunakan harta yang kita miliki untuk sarana ibadah ; berinfaq,sedekah,zakat,menolong sesama , haji dan umroh, dan lain-lain ibadah dalam rangka mencapai tujuan : Hidup dalam Ridho Allah, dan mati dalam Rahmat-Nya pula.

Demikian visi hidup orang-orang yang beriman dalam menjalani kehidupan karena hati yang dipenuhi dengan cahaya ilahi.
Suatu hari, Imam Al Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu sang Imam bertanya: “Apa yang PALING DEKAT dengan diri kita di dunia ini ?”.
Murid-muridnya menjawab: “Orang tua, guru,kawan dan sahabat”.
Imam Ghazali menjelaskan, “Semua jawaban itu benar. Tapi yang paling dekat dengan kita adalah “ KEMATIAN ” sebab kematian  merupakan janji Allah swt  dalam Surah Ali Imran ayat 185 :
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung.
Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”.
Nah,loo !

Rantauprapat,14 Mei 2014



Jumat, 25 April 2014

NASEHAT UNTUK PARA PENGANTIN DAN CALON PENGANTIN



Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahiim,anda menetapkan sebuah keputusan besar dalam sejarah kehidupan anda,sebuah keputusan yang akan merobah banyak hal  dalam diri dan fikiran anda,kebiasaan dan pola hidup anda ,yaitu menikah ! Adalah naluri manusia untuk hidup berpasangan sebagai sebuah kodrat dari Allah swt yang maha sempurna ciptaannya sehingga keputusan  anda telah benar menuruti  perintah  Allah dan Rasul-Nya.
Serasa bermimpi  anda mungkin sedikit ragu,”Benar nggak sih aku sudah menikah  dengan pria/wanita ini ?”,namun setelah melampaui masa-masa melelahkan yaitu acara adat,budaya,tradisi,dan resepsi,akhirnya anda benar-benar yakin bahwa anda telah menjadi seorang isteri atau menjadi seorang suami.   Rasa haru dan senang berbaur menjadi tumpukan bahagia telah dimiliki atau telah memiliki seseorang dan semua itu wajar dan bahkan sangat wajar karena memang sejak saat berpacaran anda berdua sudah mengimpi-impikan pernikahan ini. Namun wahai Maimuun… pengantin yang berbahagia, sejalan dengan berputarnya waktu anda akan menemui kenyataan demi kenyataan yang nyaris bertolak belakang dengan apa yang selama ini anda khayal dan bayangkan tentang pasangan anda yang jika tidak disikapi dengan iman dan sikap menerima pasangan anda apa adanya maka pernikahan ini atau rumah tangga anda akan menjadi siksa berkepanjangan bagi anda.

Berikut ini saya harap dapat anda camkan benar-benar sebagai seorang pengantin , atau calon pengantin agar anda dapat mempersiapkan iman dan sikap anda demi untuk menjadikan “Baiti Jannati” seperti pernyataan fakta Rasulullah saw yang menyatakan  bahwa “Rumah tangga beliau adalah laksana syurga baginya”.
Setelah pernikahan ada empat hal yang harus anda sikapi dengan iman yang kuat,yaitu :
1.Setelah pernikahan satu- persatu keburukan pasangan anda akan anda ketahui                                               
Sebelum menikah , dalam pandangan anda si dia adalah laki-laki  atau wanita idaman yang semua yang ke luar dari sikapnya begitu baik dan manis sekali.Dia adalah orang yang pengertian,dia penuh perhatian kepada anda,tutur katanya lemah lembut, dia penurut,orangnya romantis  sekali,penyayang,hormat kepada orang tua,ramah,dan yang paling anda sukai darinya adalah sikap taqwanya begitu mengagumkan anda.
Namun setelah pernikahan anda berjalan lebih dari enam – tujuh bulan mulailah muncul satu-demi satu sikap asli pasangan anda , maka anda hendaknya dapat  menyikapinya dengan iman dan kebijaksanaan yang sudah anda persiapkan setelah membaca tulisan ini. Pada kenyataannya sih , tidak semua sikap dan tidak setiap orang setelah menikah akan berubah dari baik menjadi tidak baik,yang saya maksudkan adalah : Kebanyakan orang , baik laki-laki maupun wanita ketika masa pacaran akan berusaha bersikap baik dan manis meskipun aslinya dia bukanlah orang yang memiliki sikap yang demikian. Jika anda kebetulan mendapatkan pasangan ( menikah ) yang pada masa pacaran begitu baik dan manis sikapnya namun setelah menikah ada yang berubah dari salah satu atau beberapa sikap tersebut maka jangan buru-buru marah,jangan panik sehingga anda bersikap kasar dan tak menentu akan tetapi hadapilah  dengan iman dan kebijaksanaan untuk merubahnya.
2. Ternyata pasangan anda bukan orang yang paling cantik atau yang paling tampan yang anda sukai dan yang tertarik kepada anda.                                                                                                                                          Pada masa pacaran beliau pasangan anda adalah laki-laki paling tampan atau wanita paling cantik yang anda sukai, dan atau yang suka terhadap anda,sehingga anda begitu cinta kepada dia,siang dan malam terbayang-bayang terus,bahkan bagi sebahagian wanita ada yang rela menyerahkan kehormatannya untuk si dia.( Astaghfirullah,siapa pun jangan lakukan hal tersebut, tunggu postingan berikut “ Hamil di Luar Nikah “) Ternyata setelah setahun-dua tahun menikah ada orang ketiga yang lebih cantik atau lebih tampan yang anda sukai atau yang menyukai anda, Itu adalah fakta yang harus anda waspadai,bukankah di atas langit masih ada langit lagi,di atas yang cantik masih ada yang lebih cantik lagi,maka agar biduk rumah tangga anda selamat dan bahagia dunia akhirat tak ada jalan lain untuk menghadapi yang demikian selain dengan iman.
3.Waktu-waktu tak seindah masa pacaran                                                                                                                   Jika semasa berpacaran hari-hari yang anda lalui begitu menakjubkan di mana setiap debar jantung   anda,tarikan nafas,dan hentakan kaki anda  adalah kebahagiaan,ke mana arah mata anda memandang , dan setiap lagu yang anda dengar  semua menghadirkan kebahagiaan. Rindu adalah bahagian dari kebahagiaan juga,baru saja berpisah sudah ingin kembali bertemu,baru saja nelpon sudah ingin nelpon lagi.Semua itu wajar karena itu adalah naluri yang dilekatkan oleh Allah swt pada dinding-dinding hati umat manusia untuk memberlangsungkan kehidupan makhluk terindah yang diciptakan-Nya ini.
Namun,setelah pernikahan keindahan suasana hati seperti yang saya gambarkan di atas berangsur-angsur akan pudar,pertemuan anda dengan dia tak bermuatan energi listrik lagi,senyumnya biasa-biasa saja,kata-katanya tak semerdu  dulu lagi,anda juga pasti akan mengatakan dalam hati : “Ah… waktu-waktu tak seindah masa pacaran…” Nah, jika sudah demikian maka kembali saya ingatkan anda : Hadapi kondisi ini dengan iman,sekali lagi ; dengan iman !

Saudaraku pengantin dan calon pengantin berbahagia,semua orang yang telah menikah pasti sudah menghadapi tiga hal seperti di atas namun lihat,bukankah tidak semua pasangan yang sudah menikah lalu rumah tangganya berantakan,tidak bahagia,cek-cok melulu ? Tapi jang juga dianggap sepele karena tidak sedikit rumah tangga yang mengecewakan kedua belah pihak hanya dikarenakan tiga hal tersebut. 
Waspadalah ! Waspadalah !

Rantauprapat,26 April 2014







Sabtu, 19 April 2014

Kekuatan Diksi Pada Tulisan-tulisan Sri Wulandari Robbani



Kekuatan Diksi 
Pada Tulisan-tulisan Sri Wulandari
Robbani
Tak banyak yang dapat kujelaskan tentang insan yang bernama Sri Wulandari yang kutau dulu beliau menggunakan nama Zainab Alkautsar dalam tulisan-tulisannya tapi kemudian nama itu tak pernah digunakannya lagi . Entah yang mana nama beliau yang sebenarnya sesuai KTP saya tidak tau juga,dan dalam tulisan saya ini itu tidak perlu untuk dipanjang-lebarkan sebab saya sampai  jam segini                                 (jam 23.49) masih mengetik tulisan ini bukan karena nama dan sosok wanita yang sebaya dengan anak saya  paling kecil Syarifah Muthia Puteri ini,melainkan karena saya suka dengan ungkapan fikiran beliau tentang apa saja melalui bahasa atau melalui tulisan.

Menurut saya tak banyak orang,atau tak banyak wanita sebaya beliau yang mampu menulis seindah dan semerdu tulisan beliau sehingga hampir semua tulisan beliau baik yang tersimpan di Blogspot  maupun di facebook beliau,saya sempat-sempatkan membacanya,meskipun terkadang tulisan- tulisan beliau tidak jelas lagi apakah puisi atau prosa, apalagi di facebook mungkin hanya tulisan seorang  gadis kepada seorang pemuda yang tak menarik lagi isinya untuk saya baca,akan tetapi diksinya itulah yang membuat saya berkeinginan kuat untuk menuliskan tulisan ini bahkan di blogspot saya yang selalu saya upayakan untuk bertahan di jalur blog religi ini.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           Apa itu Diksi ? Diksi  merupakan  salah satu cabang ilmu sastra yang wajib dimiliki oleh seorang penulis sastra karena diksi merupakan  satu bahagian dari unsur-unsur  intrinsik pada sebuah karya sastra. Diksi adalah pemilihan kata.  Coba saya petik sebuah tulisan beliau di sriwulandarirobbani.blogspot.com  berikut ini : “Dan sering sekali, hujan mewarnai langkah tertatih kita. Berdesakan didalam becak, bertiga memandangi hujan dengan tatapan cinta, lalu melangitkan doa dan harapan pada-Nya. Bahkan tak jarang kita berlarian kecil menghindari tetes rahmat itu, berteduh dalam derap suara hati. Suatu kali kita pernah sengaja memilih membersamai hujan dengan duduk manis dibawah dedaun yang berterbangan serta langit yang telah berubah pekat. Sungguh, kita punya kenangan yang indah dengan hujan itu. Begitu juga dengan segala doa dan cita yang kita gelar dibawah rinainya, dengan segala keyakinan pada kekuasaan Allah, kita meyakinkan diri pada setiap harap itu”.                                                                                                                                                                                                       
Coba anda baca petikan tulisan di atas dua tiga kali dan rasakan keindahan dan merdunya tulisan tersebut karena kekuatan diksi dari penulisnya , dan bandingkan dengan ungkapan yang sama tetapi dengan diksi yang sangat lemah di bawah ini :
 “Dan sering sekali, hujan turun ketika kita berjalan bersama.Sehingga kita terpaksa naik becak berdesakan  tiga orang melihat hujan dengan senang hati, lalu menyampaikan doa dan harapan kepada Tuhan. Bahkan sering pula kita berlari-lari kecil menghindari hujan, berteduh dan riang bersama. Suatu kali kita pernah sengaja mandi hujan dengan duduk tenang dibawah daun-daun  yang berterbangan karena angin kencang  serta langit yang mendung. Sungguh, kita punya kenangan yang indah dengan hujan itu. Begitu juga  kenangan kita dengan semua doa dan cita-cita yang kita ucapkan sambil kita mandi hujan, dengan keyakinan yang kuat  pada kekuasaan Allah, kita yakin,doa kita akan diterima”.   
Kedua tulisan itu isi atau maksudnya sama,tetapi  tulisan yang di atas pasti anda rasakan lebih meninggalkan kesan indah di hati anda,dan itulah kekuatan atau daya tarik sebuah tulisan yang ditulis dengan kemampuan memilih kata yang baik. Perhatikan kata maupun frasa pada petikan langsung dari tulisan Sri Wulandari yang di bolt dan dicetak miring ! Itulah kata-kata  yang ditulis oleh Sri melalui proses pemilihan kata yang baik dan piawai yang tak setiap orang mampu memilih kata seperti demikian.
Masih di sriwulandarirobbani.blogspot.com ; coba anda simak bagaimana beliau mempermainkan kata sehingga untuk sebuah deskripsi moment saja pun beliau menggunakan diksi yang puitis sehingga menarik untuk dibaca.( Entah karena dalam tulisan beliau di bawah ini beliau menyeret habis juga segenap “hati”nya,nggak tau juga ya… )

Yang kulakukan hanya menatap sendu setiap mata sahabatku. Sama halnya dengan cerita ringan yang mengalir di sisi goyangan lidah. Hari ini menunaikan janji hati untuk mempertemukan jalinan kisah yang selalu mewujud rindu,  berempat mengelilingi meja dengan luapan rasa tanpa raga.
Bukannya sekedar  mencari tempat untuk hanya  memanjakan mata dengan hidangan sesuai selera, pilihan tempat  adalah alasan membuat kebersamaan kian terbarui bersama kunjungan asing kali ini. Pilihan tema yang unik ternyata, baru kusadari bahwa  rindang alam ini yang memaksa hati untuk jujur mengungkap desahnya  dihadapan semua mata cinta sahabatku.

Aliran energi yang keluar dari nasehat terhadap pilihan dan keyakinan-yang menjadi tema kali ini-ternyata mujarab. Dari seorang sahabatku  yang punya segudang ilmu dan pengalaman ini lah, pencerahan itu datang menyongsong sore yang kian temaram.  Begitu bijaksananya....

Dalam saung sederhana bernama teduh...
Setiap lantunan desir angin yang menggoyangkan dahan sawit yang membentang dihadapan, mengusik sisi diksi yang menyusup ruang tanpa nama. Adalah sebuah kebisuan yang menghantam saat riuh rendah suara tenggelam dalam temaramnya senja yang mengejar.

Dalam saung sederhana bernama teduh...
Sebenarnya waktu kian berlari cepat memaksa berpisah, namun bukankah ia adalah niscaya? Hingga tak satupun desir angin itu mengabarkan setuju pada jejak menjauh.

Dalam saung sederhana bernama teduh...
Kutemukan rindang di tatap matamu, maka jangan salahkan jika aku memendam rindu padamu, selalu....
* Terimakasih, ketika cinta terselip dalam sebuah saku rindumu.

Dalam tulisannya yang lain di facebook  Sri bertutur :
Pada suatu sore
19 April 2014 pukul 17:25
Beberapa kali memang saya kerap dibanjiri protes dan pertanyaan-pertanyaan tentang mengapa hanya untuk menulis saja, saya harus repot-repot hunting tempat kesana-kemari, hanya untuk menulis,  bahkan yang paling sederhana. Termasuk hanya untuk menuh-menuhin beranda facebook teman-teman dengan status gak penting saya atau paling banter nulis sesuatu di note Fb dan di Blog.
Bagi saya yang kerap menjadikan tulisan sebagai wadah curhat, tentulah akan sama kondisinya dengan suasana hati ketika menuliskannya. Penyakit saya pribadi adalah seringkali mengalami kebuntuan akut untuk mewujudkannya dalam bentuk kalimat per kalimat atau lebih tepatnya bisa membahasakannya secara sederhana agar saya pribadi(terutama) dapat paham apa yang saya tuliskan.     
Karena kebutuhan saya yang sangat akan curhat dengan menulis inilah, yang membuat kepala saya berasa mau pecah jika sehari saja tak mengakrabi bait-bait puisi atau sekedar orat-oret di kertas lusuh.  Penyakit buntu dan kekeringan yang sangat ini mengharuskan saya bisa mengatasi kesulitan untuk bisa menulis, walau apa adanya. Yang penting hati lega dan dapat tersenyum ikhlas pada dunia(Gaya gue, ampuuun daaah).
Nah ini dia yang membuat kaki saya amat panjang untuk melangkah kemana-mana, seorang diri.( Lha nanti kalau ngajak-ngajak orang lain, bisa berabe ntar, karena ujung-ujungnya dia bakal saya cuekin. Hehehe.) Hobi saya hunting tempat yang enak buat nulis bisa membuat saya keliling-keliling kota di siang bolong, saat matahari benar-benar menggigit kulit. Atau dengan konyol keliling kota dengan sepeda motor paling setia di saat hujan deras melanda. Jika kebanyakan orang sibuk berteduh, meringkuk di balik-balik dekapan tangannya, saya dengan ikhlas akan membersamai hujan sampai hujannya bosen ngeliat saya. Hahaha
Inspirasi yang datang di tempat dan suasana yang berbeda, tentulah akan membuat kita yang menuliskannya merasakan sesuatu yang berbeda pula. Istilahnya, lebih  cetar membahana. :D Disaat kita ingin menuliskan tentang kenangan kenangan indah yang pernah kita lewati bersama orang yang tersayang, tentu dengan mengunjungi tempat-tempat yang dulu pernah menjadi saksi kebersamaan akan menghasilkan sebuah kekuatan lebih. Dibandingkan jika saat  menuliskannya,  kita hanya berada di dalam kamar, hanya sebatas mengingat dan mengenang dari balik dinding batu rumah yang memisahkan kenyataan dengan kenangan.
Itulah mengapa banyak penulis-penulis besar yang dengan khusus melakukan perjalanan ke sebuah tempat atau mengasingkan dirinya ke daerah yang membuatnya nyaman untuk menulis. Tempat-tempat yang indah, tenang, inspiratif, penuh kenangan mungkin, adalah destinasi mereka untuk menghasilkan karya.
Terserah pada yang ingin melontarkan apa    kepada siapa. Buat saya, mungkin beginilah caranya saya berkomunikasi dengan waktu dan keadaan, beginilah saya menulis, beginilah saya menghargai apapun yang ingin saya bagi. Dan beginilah keunikan yang saya miliki, lebih sering konyol daripada warasnya.
Nah, saya menyelesaikan note ini juga di sebuah tempat selain di rumah. Dengan menikmati suasana sore di sebuah tempat dimana banyak orang-orang berolahraga, ada yang pacaran juga di sudut-sudut sana, ada yang sedang pamer sepeda antic, ada yang juga sedang sendirian pasti saya sudah menulis minimal sekali dalam sehari , itu target saya supaya tidak stress. Hehehehe.                                                                                                                                                         
Demikian seorang  Sri Wulandari Robbani yang menurut saya sudah dapat dikatagorikan sebagai seorang penulis sastra dari Kabupaten Labuhanbatu untuk Sumatera Utara,karena karya-karya beliau yang tersebar baik di Antologi Puisi,di blog , facebook yang saya baca  cukup kuat.

*Sebagai orang tua,tulisan ini saya rekomendasikan kepada : Forum Lingkar Pena Sumatera Utara,Himpunan Penulis Muda Indonesia Sumatera Utara,dan Asosiasi Pengarang Penulis Indonesia,Jakarta.      
*Ilustrasi foto : Syarifah Muthia Puteri,puteri bungsu saya.
Rantauprapat,20 April 2014