meta content='100'http-equiv='refresh'/> ZIKIR & FIKIR: Iku Mneh ! Iku Mneh ! ( Sholat lagi,sholat lagi ! )

Minggu, 02 Juni 2013

Iku Mneh ! Iku Mneh ! ( Sholat lagi,sholat lagi ! )

Saya punya seorang sahabat bernama Pak Suriadi yang pekerjaannya sehari-hari adalah mekanik pada bengkel mobil sederhana miliknya sendiri di kota saya. Beliau seorang yang taat ibadahnya dan istiqomah melaksanakan Sholat berjamaah di masjid. Pokoknya meskipun pekerjaannya banyak menyita waktu dan penuh dengan rintangan untuk yang namanya sholat apalagi berjamaah ke masjid merupakan suatu hal yang sulit untuk dapat istiqomah seperti pak Suriadi ini. Bayangkan saja, sering sekali beliau lagi sibuk membongkar mesin di kolong mobil dengan tubuh yang clemotan oli kotor tiba-tiba terdengar azan dari masjid yang berjarak lebih kurang 700 meter dari bengkelnya, lalu beliau keluar dari kolong mobil, mandi, berwudhu’dan tancap ke masjid untuk sholat dzuhur, pulang sholat dzuhur beliau makan, ganti pakaian masuk kolong lagi, clemotan lagi dan tak terasa waktu berjalan terdengar azan untuk sholat Ashar, beliu keluar kolong lagi dan tancap ke masjid. Begitu rutinitas beliau dari azan ke azan berikutnya dan itu sudah dilakoni oleh beliau sejak lima tahun belakangan ini, orang bilang pak Suriadi dapat hidayah sejak ikut usaha dakwah jamaah jaulah atau apa namanya, karena sebelum itu pak Suriadi termasuk golongan orang yang tak peduli dengan yang namanya kegiatan berbau agama.

Suatu hari sahabat saya ini kedatangan seorang tamu yang tak lain adalah abang kandungnya sendiri, beliau memanggilnya Kang Samin, datang dari kampung mereka di Pematang Siantar. Layaknya dua saudara yang sudah lama tidak bertemu mereka begitu akrab dan senang atas pertemuan ini. Sepenggal dari percakapan mereka saya dengar seperti ini :

“Kamu hebat dik”, kata Kang Samin “Sudah banyak perubahan pada dirimu“.
“Apa yang berubah Kang ?” tanya sahabat saya.
”Sekarang wajahmu terlihat bersih, teduh,dan berwibawa ditambah lagi jenggotmu itu loh, seperti orang-orang yang kalo sore-sore suka ngajak-ngajak sholat berjamaah di masjid, yang nginap dari masjid yang satu ke masjid lain itu, pakaianmu juga”.
“Oh begitu,ya iyalah Kang kita  harus berubah dari yang kurang baik kepada yang baik Kang. Alhamdulillah sekarang saya istiqomah melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Nanti maghrib kita ke masjid ya Kang ?”kata pak Suriadi.
”Lah,ngapain ke masjid ? Apa ada Mauludan ?” Tanya Kang Samin dengan wajah ndeso yang lagi heran.
“Bukan Mauludan Kang, tapi sholat maghrib berjamaah di masjid, sunnahnya begitu Kang “. Kang Samin semakin kagum pada adiknya ini, dan ketika maghrib tiba Kang Samin tak kuasa menolak ajakan adiknya untuk dibonceng motor ke masjid.

Tiba di masjid Kang Samin celingukan memandangi sekeliling ruangan masjid, dalam hatinya dia mengagumi adiknya yang tidak canggung-canggung menghidupkan pengeras suara lalu azan dengan suara lantang. Bathin Kang Samin berdecak-decak,
”Jangankan di masjid yang semegah dan sebersih ini, di masjid kampung saya yang memprihatinkan, kecil dan kumuh yang jamaah jumatnya cuma lima belasan  orang saja saya nggak berani duduk atau berdiri di kawasan dekat imam, apa lagi azan seperti dia, wah…wah..”.

Singkat cerita usailah sholat maghrib, seperti biasa sebahagian jamaah tidak langsung pulang ke rumah termasuk sahabatku Pak Suriadi ini biasanya bergabung ke dalam golongan jamaah yang tidak langsung pulang melainkan menunggu masuk waktu sholat isya’ di teras masjid, katanya sambil ngobrol sambil muzakarah begitu, tapi kalau saya amati lebih banyak ngobrolnya dari muzakarahnya, sepuluh buang sembilanlah. Tapi tak apalah dulu karena yang menjadi sorotan dalam cerita ini adalah Kang Samin. Mau tidak mau Kang Samin ikut gabung di lingkaran “muzakarah“ ini, topik “muzakarahnya pun macam-macam,mulai dari pahala sholat berjamaah, keluar ke harga sawit,keluar ke benjolan di ketiak seorang hadirin, keluar lagi ke merek minyak wangi, ke beda sabun colek dengan deterjen, ke PSSI yang waktu itu sedang ricuh-ricuhnya, ke puncak gunung Bromo, ke penyakit mata, dan terakhir ke bisnis bulu matanya Syahrini. Benar bukan? “Muzakarah sepuluh buang Sembilan “. Akan halnya Kang Samin hanya menjadi pendengar budimanlah saat itu, hanya sesekali dia ikut tertawa kalau ada hadirin yang tertawa, pasalnya Kang Samin takut kalau dikira budek atau tuli kalau nggak sesekali nimbrung tertawa.
Selesailah sholat isya’ Kang Samin kembali dibonceng adiknya pulang, lalu makan, lalu nonton tv, lalu setelah itu tidur karena sahabat saya Pak Suriadi sudah biasa tidur pukul dua puluh satu,soalnya besok kan harus bangun cepat untuk sholat subuh. Padahal sejak Kang Samin naik bus dari Pematang Siantar,beliau sudah mengharapkan nanti malam dijamu oleh adiknya untuk sekedar makan-makan di warung mie Aceh seperti enam tahun yang lalu dia berkunjung ke rumah adiknya Suriadi ini. “Ah…tak apalah,mungkin besok malam “,desah hati Kang Samin dia pun tertidur di depan televisi. Eh, perasaan Kang Samin satu mimpi belum usai beliau sudah dibangunkan adiknya itu : Kang,Kang Samin ! Bangun sudah jam empat , ayo mandi ke sumur, kita mau sholat subuh ke masjid “. Setengah terbangun Kang Samin bangkit juga menuju ke arah sumur di belakang rumah , dia berpapasan dengan adiknya di pintu dapur dan dilihatnya adiknya yang berjenggot lebat tanpa kumis itu sudah siap dengan pakaian gamis putih,celana putih yang tingginya di atas mata kaki,duduk di atas sepeda motornya menghadap pintu ke luar. Kang Samin nggak pakai mandi lagi,melainkan hanya mencuci muka,membasuh kaki,mengorek-ngorek lobang hidungnya dan hap ! Selesai. Tiba-tiba saja Kang Samin sudah nagkring di boncengan adiknya si jenggot itu,dan bruum tancap ke masjid. Tujuh kali Kang Samin menguap panjang selama perjalanan menuju masjid itu,akhirnya sampailah mereka di masjid yang maghrib semalam dikagumi Kang Samin. “ Assalamu alaikum Ustazd !”,tegur seseorang kepada Pak Suriadi. “Alaikum salam !” ,dijawab enteng sambil senyam-senyum oleh adiknya tersebut.”Adikku di sapa Ustazd oleh orang di kampung ini rupanya “,bathin Kang Samin setengah kagum setengah geli.” Ustazd dari Hongkong ! “ fikirnya,karena dia tau betul adiknya ini,wong seperti dia , ngaji aja nggak becus , kok dipanggil ustazd. “Tapi tak mengapa, habis sholat subuh nanti aku tancap tidur lagi”, fikir Kang Samin sederhana Sambil menguap yang ke tujuh lagi selama di masjid ini. Pak “Ustazd “ Suriadi pun bangkit azan dan tak lama selesai,orang-orang bangkit dan Kang Samin pun bangkit sholat. “Oh, kalau sholat subuh nggak boleh berjamaah kali ya ? “ fikir Kang Samin karena dilihatnya orang-orang angkat takbir sendiri-sendiri bahkan sudah ada yang ruku’,Kang Samin pun Sholat subuh. Takut ketinggalan sendiri Kang Samin tancap gas , baru satu raka’at Kang Samin salam kiri kanan. “Alhamdulillah nggak terlambat,kalau terlambat kan malu dilihati orang “,fikir Kang Samin. Pak Suriadi bangkit lagi untuk iqamah dan orang-orang bangkit lagi. “ Loh ! Mau ke mana ?” fikiran Kang Samin sibuk seperti sinyal selular pada jam-jam sibuk.Orang-orang berdiri di satu shaf, Kang Samin ikut saja.”Terserahlah,mau sholat apa ini ya Allah,aku ikut imam saja,Allahu Akbar”,Kang Samin pasang niat tan langsung takbirotul ‘ula,karena menurut beliau tadi dia sudah sholat shubuh dua raka’at meski diskon satu.
Singkat cerita sholat shubuh pun klar,zikir wiridan klar,doa pun klar,orang-orang bangkit,Kang Samin juga bangkit,cuma celakanya bagi Kang Samin orang-orang bangkit menju berkumpul di depan imam yang mau bayan shubuh,Kang Samin bangkit menuju pintu keluar.”Kang Samin ! “ panggil pak Suriadi kepada kakangnya ini,Kang Samin menoleh,pak Suriadi melambaikan tangannya memberi isyarat agar kakangnya duduk di sini di dekatnya mendengarkan bayan shubuh menggapai hidayah.Dengan perasaan gugup bebaur kesal Kang Samin menuruti perintah ustazd “dari Hongkong” ini.”Apa lagi sih ini ?” gerutu otaknya. Lebih kurang sepuluh menit imam shubuh menyampaikan mutiara-mutiara hadist baginda Rasulullah,Kang Samin tidak mendapatkan satu pun kesimpulan di dalam benaknya untuk di bawanya pulang ke Pematang Siantar,karena selama imam bayan shubuh itu Kang Samin sungguh kerja keras menahan kantuknya yang luar biasa. Dan yang luar biasanya lagi dalam hati Kang Samin bertekad : “Nggak kerjaan ini ! Besok subuh aku nggak bakal mau dibanguni!”
Waktu dzuhur tiba,Pak Suriadi stand by dengan gamis putih celana kebanjirannya dalam pandangan Kang Samin , Kang Samin pura-pura sibuk merapikan kunci-kunci pas yang berserakan. “ Sudah Kang,biarin nanti diberesin anggota itu,ayo kita sholat !” Kang Samin berkilah : “ Belum berwudhu’ !”. “Berwudhu’ di masjid aja nanti ! “ tukas pak Suriadi. Tak ada alas an lagi kang Samin manut membonceng di sepeda motor adiknya.Tak ada kecelakaan bagi Kang Samin selama melaksanakan sholat dzuhur karena bukankah pengalaman the first of sholat shubuh bagi Kang Samin adalah pelajaran yang tak terlupakan.
Waktu Ashar telah tiba pula, Kang Samin berharap dalam hati agar suara azan tidak sampai menyuruk ke bawah mobil di mana adiknya klontang- klonteng di sana. Tapi dasar ustazd jenggot, adiknya itu seolah-olah sudah benar-benar mahir dalam menaksir waktu-waktu sholat di mana dia harus ke masjid,buktinya tak berapa lama adiknya itu sudah siap lagi dengan gamis putihnya.”Ayo kang !”. Kang Samin kesal benar:” Berwudhu’ di masjid aja kan ?”,katanya sambil duduk di belakang pak Suriadi.
Maghrib , dan Isya di hari kedua kunjungan muhibbah Kang Samin ke rumah adiknya ini tak ada insiden yang berarti,namun setelah pulang dari masjid ba’da Isya dan usai makan malam terjadilah keributan di hati Kang Samin. Beliau bertengkar dengan dirinya sendiri,pasalnya tak lain dan tak bukan adalah mie Aceh yang diidam-idamkannya tak kunjung masuk ke perutnya karena adiknya Pak Suriadi sepertinya sekarang tak punya kemauan lagi untuk jalan ke kota seperti enam tahun yang lalu,katanya kota itu sama dengan pasar dan menurut hadist Rasulullah tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar.”Aku kalau nggak untuk urusan yang penting nggak mau ke kota kang Samin , soalnya ke kota sama dengan ke pasar,di sana segala ragam manusia berseliweran tanpa etika dan buka-buka aurat,haram hukumnya memandang aurat bukan muhrim”. Begitu kata Pak Suriadi kepada Kang Samin ketika ngobrol sarapan pagi tadi sehingga usai makan malam ini Kang Samin hilang selera untuk mengajak adiknya itu ke kota , akan tetapi di sisi lain selera Kang Samin meluap-luap terhadap aroma dan rasa mie Aceh yang dirasainya enam tahun silam.
Keributan di dalam hati Kang Samin terekam dalam dialog sebagai berkut : “Aku kan sudah bilang nggak usah kunjungan-kunjungan muhibbah segala lah ke rumah Suriadi !“,kata hati Kang Samin. Nafsu Kang Samin mendadak emosi mendengar ocehan bernada menyalahkan begitu,”Bukan masalah kunjungan muhibbah,itu kan Cuma judul kedatangan saja !” Hati Kang Samin bertanya dengan sabar,”Kalau bukan masalah kunjungan muhibbah ini masalah apa lagi yang membuat kamu dari tadi uring-uringan terus ? ” Nafsu Kang Samin naik darah menggebrak dinding hati Kang Samin sambil berteriak : “ Mie Aceeeh,mie Aceeeeeh,itu masalahnya !“ Hati Kang Samin agak kecut digebrak begitu,beliau berkata : “ Ya udah ajak Suriadi sekarang ke kota makan mie Aceh”. “Diam kau ! Suriadi itu sudah mematikan nafsunya untuk dunia ini,dia nggak mau ke kota banyak aurat berseliweran , haram katanya!”, “Memang begitu mestinya”,kata  hati Kang Samin menyela. “ Diam Kau !”,kata nafsu Kang Samin dengan wajah merah darah. Dibentak begitu hati Kang Samin terdiam,nafsunya juga diam.Akhirnya aroma dan rasa mie Aceh idaman Kang Samin menghantarkannya menuju tidur nyenyak tanpa mimpi sama sekali,mungkin kecapean pasca keributan tadi.
Entah karena tidurnya cukup nyenyak atau karena kesal yang telah jenuh selama dua hari cuma diajak dari rumah ke masjid,dari masjid ke rumah saja Kang Samin dengan mudah dibangunkan Pak Suriadi dan menurut saja di ajak sholat shubuh ke masjid.Sepanjang jalan bahkan sampai sholat usai dan bayan shubuh pak imam rampung,tak sekalipun Kang Samin menguap. Hanya saja perubahan terjadi di pihak Kang Samin,bahwa beliau sejak keributan tadi malam Kang Samin diam seribu kata.
Ketika waktu dzuhur diajak kemasjid oleh adiknya,dia diam tapi menurut berboncengan masih tetap diam,entah berwudhu’ entah tidak Kang Samin langsung masuk shaf yang kebetulan mereka agak ketinggalan takbirotul ‘ula. Tak ada cerita menarik dari sholat dzuhur kali ini.Kang samin diam membisu sementara Pak Suriadi sahabat saya itu tidak menaruh perhatian kearah itu. Seusai makan siang Kang Samin langsung merebahkan diri di depan televisi dan tidur berkeringat begitu nyenyaknya. Sampai menjelang tiba waktu Ashar Kang Samin masih pulas dengan wajah yang kalau diamati dengan cermat seperti memendam kekesalan yang luar biasa.
Sahabatku Pak Suriadi sudah siap mandi dan sudah mengenakan baju sholatnya yang biasa,gamis putih dengan celana panjang di atas mata kaki. Jenggotnya masih basah dibiarkan begitu saja,kopiah putih nangkring dengan manis di atas rambutnya yang basah juga,nur hidayah seakan memancar dari wajahnya. Tenang dan perlahan beliau sentuh tubuh Kang Samin untuk membangunkannya.
“Kang… bangun Kang…”
Kang Samin membuka mata dan berusaha duduk.
“Eneng opo ?” , tanya Kang Samin.
“Ayo ke masjid sholat Ashar…Kang…”
“Wueleh ! Iku mneh,iku mneh ! Bosan aku ! Jawab Kang Samin tidak bergerak dari duduknya. Mungkin maksud  kata-kata Kang Samin itu adalah : Sholat lagi,sholat lagi ! Membosankan !
Astaghfirullah,sampai sebegitunyakah pandangan sebahagian umat ini terhadap perintah sholat ?
( Rantauprapat,25 Mei 2013 )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar