MASIH ADA BUDIONO
Namanya Budiono , umur 40 tahun , agama Islam , pekerjaan Penjaga Sekolah di salah satu Sekolah Dasar di Kecamatan Panai Hilir di sebuah desa nun terpencil diperintahkan Kepala Sekolahnya membongkar sekat ruang kelas empat yang terbuat dari tripleks karena ruang kelas tersebut akan gunakan untuk ruang kelas bagi siswa kelas tiga yang akan naik kelas jumlahnya lebih dari empat puluh orang. Dengan ikhlas dan senang hati pak Budiono mengerjakan apa yang diperintahkan oleh kepala sekolahnya.Setelah selesai membongkar sekat ruang kelas tersebut pak Budiono teringat pada kandang bebeknya yang sampai saat ini belum dipasang dinding karena belum ada uang untuk membeli sekedar tripleks.Budiono bergegas menjumpai Kepala sekolah untuk meminta tripleks bekas bongkaran tersebut barang satu atau dua lembar untuk dinding kandang bebeknya.Oleh Kepala sekolah permintaan pak Budiono dikabulkan sebanyak tiga lembar.
Sesudah jam belajar selesai pak
Budiono membawa tripleks tersebut ke rumah dinasnya yang masih di lingkungan
sekolah.Melihat pak Budiono membawa tripleks bekas tiga lembar,istrinya
bertanya tripleks itu dari mana dan pak Budiono menjelaskan asal usul tripleks
itu . Saat itu istrinya diam saja dan berlalu,tapi pada malam harinya pak
Budiono memperhatikan istrinya gelisah tak
seperti hari-hari biasa. Semula pak Budiono tidak begitu menaruh
perhatian,namun setelah malam semakin larut dan istrinya tak kunjung tertidur
sementara pak Budiono sudah berulang kali terbangun akhirnya pak Budiono
bertanya kepada istrinya,apa yang membuat istrinya itu gelisah dan tak bisa
tidur.Agak lama istrinya baru bisa menjawab pertanyaan pak Budiono : “ Mas…tripleks yang mas minta dari kepala
sekolah itu bukan milik kepala sekolah , tripleks itu milik orang tua siswa
karena untuk menyekat kelas itu dulunya diminta partisipasi orang tua
siswa,besok mas pulangin tiga lembar barang haram itu ke gudang…di akhirat
nanti kita dimintai pertanggungjawabannya mas…” Pak Budiono tak bisa
berbicara apa-apa,bukan karena takut dimarahi oleh istrinya pagi-pagi benar pak
Budiono mengangkut kembali tripleks bekas itu ke sekolah dan memberitahukan
kepada kepala sekolah bahwa dia tidak jadi menggunakan tiga lembar tripleks
bekas itu.
Orang kecil sekecil istri pak
Budiono yang hanya seorang ibu rumah tangga dan istri seorang penjaga sekolah
di pelosok Kabupaten Labuhanbatu Provinsi Sumatera Utara itu meskipun mungkin
Cuma fiktif,namun terasa menonjok hati ketika semua orang saat ini terperangah dengan maraknya kasus korupsi
milyaran rupiah oleh orang-orang besar negeri.
Sebuah Hadist : Dari Umar Bin
Khattab r.a , berkata : ” Ketika selesai perang khaibar,beberapa sahabat Nabi
SAW pulang kembali dan mereka
menyebut-nyebut bahwa “si Fulan mati sahid ,si Fulan mati sahid”, sehingga
mereka bertemu dengan seseorang di tengah jalan mereka menyampaikan, “si Fulan
mati sahid”. Kemudian Nabi SAW bersabda : “Tidak ! Sesunggunhnya aku melihat si
Fulan berada dalam neraka karena dia menyembunyikan kain mantel rampasan perang yang belum dibagi ”. (HR.Muslim )
Rantauprapat,28 Mei 2013
Hmmm, seseorang yang terlihat baik saja belum tentu meninggal secara khusnul khotimah, sebaliknya orang yang terlihat tidak baik atau biasa bisa meninggal dengan cara yang khusnul khotimah.
BalasHapusManusia tidak bisa mengukurnya, hanya Allah yang Maha Sempurna.
:D