meta content='100'http-equiv='refresh'/> ZIKIR & FIKIR: Apresiasi Puisi Religi Zainab Alkausar

Minggu, 07 Juli 2013

Apresiasi Puisi Religi Zainab Alkausar


                         
  Aku dan Pinta

Hingga ujung kalam-Nya nanti
aku tak hendak menyisipkan lara dalam setiap perjumpaan
Yang kutahu hanya satu
Bilik-bilik hati yang terasa hening ini
kunikmati dengan segenap doa

Bahkan ketika yang ditakdirkan dalam masa itu tiba
Yang terpinta dalam sepanjang sajadah itu
Hanyalah ku dan Mu

Juga tak lupa bahwa jiwa yang sebenarnya
selalu menyimpan kesah ini
Adalah raga yang tak sanggup berdiri
tanpa kasih juga hendak-Nya

Pun jika kelak,mata menutup selamanya
Adalah pinta untuk mati
dalam istiqomah dan husnul khotimah

-Hidup mulia atau mati sahid
Rantauprapat,26 Oktober 2012
Zainab Alkausar

Demikian Zainab Alkausar mengkomunikasikan isi hatinya kepada pembaca bahwa betapa pun penderitaan hidup yang dialami oleh beliau ( penyair ) , beliau tak pernah mau untuk menunjukkannya kepada sang khalik dalam setiap kesempatan , apakah ketika beliau berdoa,maupun mungkin ketika beliau sholat.Penyair kelihatannya seorang yang menerapkan sikap qona'ah dalam mengharungi kehidupan ini,beliau menikmati saja suasana hati yang dimilikinya sebagai sebuah kebahagiaan tersendiri,ya kebahagiaan hidup berada dekat dengan sang pemberi kebahagiaan,ketenangan,dan keteduhan.
Aku tak hendak menyisipkan lara dalam tiap perjumpaan  
Yang kutahu hanya satu
Bilik-bilik hati yang terasa hening ini
kunikmati dengan segenap doa
( Aku tak mau berkeluh kesah kepada-Mu wahai Allah,karena bagiku segala apa yang Kau beri ke dalam hati ini adalah anugrah yang kunikmati dengan penuh rasa syukur kepada-Mu)

Bahkan dalam setiap doanya , ketika Allah mentakdirkan untuk memanggilnya , Zainab Alkausar tidak menginginkan apa-apa selain hanya Allah dan dirinya saja,karena beliau sadar keluh kesah meskipun di dalam hati adalah bukti bahwa sesungguhnya beliau adalah makhluk yang dha'if yang tak sanggup berbuat apa-apa tanpa kasih sayang dan pertolongan dari Allah semata.
Juga tak lupa bahwa jiwa yang sebenarnya
selalu menyimpan kesah ini
Adalah raga yang tak sanggup berdiri
tanpa kasih juga hendak-Nya
( Kuakui,keluh kesah atas penderitaan hidup yang Kau takdirkan kepadaku selalu mendera hati ini,dan itu adalah bukti bahwa aku ini adalah hamba-Mu yang lemah , jika tanpa kasih sayang dan pertolongan-Mu wahai Allah )
Di akhir puisinya Zainab Alkausar kembali mengungkapkan satu harapan bahwa jika pun Allah memanggilnya nanti Zainab berharap dipanggil dalam istiqomah di jalan Allah,dan husnul khotimah, sebagai akhir kehidupannya yang baik dalam pandangan Allah.
Pun jika kelak,mata menutup selamanya
Adalah pinta untuk mati
dalam istiqomah dan husnul khotimah

Sederhana memang puisi religi berjudul Aku dan Pinta ini,namun kata yang dipilih oleh Zainab untuk mewakili perasaannya begitu lancar mengalir dan menurut saya mampu membuai pembacanya larut dalam suasana hening seperti heningnya bilik-bilik hati Zainab dalam kebahagiaan yang bukan karena materi keduniaan,melainkan karena merasa Allah selalu ada di sana , bersemayam di bilik-bilik hati Zainab.

Siapakah Zainab Alkausar ? Saya juga belum mengenal beliau.Nama itu begitu asing dalam fikiran saya,namun begitu saya disuguhkan oleh sahabat saya Th Pohan seonggok puisi untuk saya beri review atau semacam komentar atau apalah kata Th Pohan,karena katanya puisi-puisi itu akan diterbitkan,maka saya sedikit terperangah membaca puisi-puisi Zainab yang bernada religius.Ada toh anak Rantauprapat yang mampu menulis puisi seapik ini ? fikir saya. Maaf lo bagi penulis puisi yang lain yang satu onggok akan diterbitkan itu,yang lain juga bagus puisinya kok.
Bagi Saudaraku peminat sastra,jika dalam waktu dekat seonggok puisi itu sudah terbit dengan judul :Sajak Langit Panai,silakan simak puisi mereka ; Th Pohan,Agung S,de Puspa,Zainab Alkausar,Ibn Ven,Herlina Hsb,Qaireen Izz,Ahmad Fajar Septian,Faisal,dan Dita Fadhilah Azri.
Sungguh kiranya Allah senantiasa membimbing hati kita semua dalam suasana religius yang berarti Allah masih bersemayam di sana yang salah satunya tercermin dari puisi-puisi yang kita tulis.

Rantauprapat,8 Juli 2013
 

1 komentar: